Kamis, 31 Mei 2012

Nanny's first dress

Di pedalaman desa Mirace, hidup seorang anak dengan kebutuhan kurang memadai, bernama Nanny.
 "Nanny, antarkan makan siang Ayah!" seru Kakak Nanny, Vanya.
"Iya, Kak!" jawab Nanny menurut. Nanny pun segera berangkat menuju sawah tempat Ayah-nya bekerja. sawah itu bukanlah milik keluarganya, tetapi milik tetangganya yang kaya raya, bernama Pak Githe. sawah itu hanya digarap oleh Ayah Nanny.
"Selamat siang, Ayah!" sapa Nannya ketika telah sampai. "ini makan siang untuk Ayah," kata Nanny sambil menyerahkan kotak makan yang ia bawa.
"Iya Nanny. terimakasih," kata Ayah. "mau menemani Ayah makan siang?" tawar Ayah.
"Boleh, boleh," jawab Nanny setulus hatinya.
setelah itu, dia kembali pulang.
"Nanny pulang dulu, ya, Ayah!" izin Nanny.
Ayah hanya mengangguk pelan. dan segera kembali bekerja.
di rumah, Nanny memiliki tiga orang saudara, dua diantaranya perempuan dan lebih tua. bernama Kak Vanya dan Kak Anggun. sedang, adiknya bernama George. Ibu Nanny telah meninggal sekitar lima tahun yang lalu, ketika dia berumur 3 tahun. kini, Kak Vanya yang juga membanting tulang membantu Ayah. Kak Vanya bekerja sebagai tukang masak atau koki, yang mana masakannya nanti dijual, di depan rumahnya.
pagi buta ini, Kak Vanya, Kak Anggun, Nanny dan Ayah telah bangun. Kak Anggun, yang selalu menyuruh-nyuruh Nanny, selalu menyuruh dengan kasar. mungkin karena iri kepada Nanny, yang selalu disayang Ayah.
"Eh, Nanny! bersihin kamar mandi tuh. daripada nganggur!" perintah Kak Anggun. padahal, dia sendiri sedang menganggur. bukannya membantu. Ayah saja tidak pernah memerintah Nanny seperti itu.
"Anggun, tidak boleh menyuruh seperti itu! kamu saja yang membersihkan, biar Nanny membantu Vanya!" cegah Ayah.
 di balik sana, George, yang merupakan anak pungut, yang kini telah besar, masih tertidur lelap. dia ditemukan Ibu Nanny saat masih bayi di sawah. entah, siapa yang tega membuangnya, padahal George merupakan anak yang baik dan cerdas.
Akhirnya Kak Anggun yang membersihkan kamar mandi. setelah itu, Ayah mandi untuk bekerja. lalu Kak Vanya, Nanny dan George. Kak Anggun terlihat capek.
Nanny dan George berangkat sekolah bersama. Kini, Nanny duduk di bangku kelas 6 SD, George di kelas 4.
Di tengah perjalanan, Nanny melihat sebuah gaun yang indah berwarna merah jambu terpajang di etalase salah satu toko yang mereka lalui.
 "Indah," Nanny bergumam.
"Apanya yang indah, Kak? ayo, Kak! nanti kita terlambat!" ingat George yang melihat Nanny melamun memandangi sebuah gaun. akhirnya mereka kembali berjalan.
sesampainya di sekolah ..
"Eh Nanny! kamu tahu tidak? kabarnya 3 Minggu lagi, si anak kaya dan sombong itu, Pio akan berulangtahuh!" kata Ghommy, teman Nanny.
"Benarkah?" tanya Nanny dengan nada datar, tanpa terkejut sama sekali. Nanny memang tidak suka kepada Pio, karena ia sombong.
"Iya, kamu datang tidak? kalau diundang?" tanya Ghommy mengejek.
"Enggak tau!" kata Nanny sedikit membentak. buktinya, sampai Ghommy kaget.
"Ayolah."
"Entahlah!" kata Nanny sambil meninggalkan Ghommy ke taman sekolah, dan Ghommy menyusulnya. "tapi kan, aku belum di kasih undangannya! mungkin tidak!" jawab Nanny.
"Kau pasti diundang!" kata Ghommy menyemangati Nanny. "aku yakin itu. kalau kamu diundang, ayo kita mencari gaun di pusat kota Mirace!" lanjut Ghommy.
 "Aku tidak tahu, Ghom!" bentak Nanny. akhirnya Ghommy menyerah.
"Maaf!" 
"Yalah, gak papa! lagian gitu aja, aku ngambek!" kata Nanny.
 Sore itu, Nanny diperintah Kak Anggun untuk menyapu halaman. Nanny pun menurut. ketika ia, sedang menyapu, dia menemukan sepucuk surat undangan, yang tergeletak di pintu depan. tanpa aba-aba, dia langsung mengambil surat itu, tapi ia tidak segera membukanya, malah menyapu halaman terlebih dahulu. tapi saat akan memasukkannya, ia melihat undangan? apa ini dari Pio? ah tidak mungkin, mana mau dia mengundang gadis kampungan sepertiku. mungkin ini untuk George.
setelah selesai, ia membuka undangan itu, di situ tertera namanya. bukan George. jadi, ini untukku? batin Nanny. setelah membaca, ternyata itu surat undangan ulang tahun, dia melihat pengirimnya.
 Salam,
Pio 
Haa dari Pio?

setelah mendapat undangan dari Pio, Nanny mencari pekerjaan sampingan untuk mencari uang, untuk membeli gaun di toko kemarin. harga gaun itu 30 Yoire, mata uang negara Guatemala. 1 Yoire sama dengan Rp 8000. berarti sekitar Rp 240.000. akhirnya dia menemukan pekerjaan. dia bekerja sebagai pelayan. dia bekerja tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Ghommy. setelah 2 Minggu, ia telah mendapatkan uang 25 Yoire, kurang 5 Yoire.
"Nanny selama ini, Nanny kemana setelah pulang sekolah?" tanya Ayah yang curiga atas pekerjaan Nanny.
"Selama ini, Nanny bekerja ayah! sebagai pelayan!" jawab Nanny. "Nanny tidak mau merepotkan Ayah!" lanjut Nanny.
"Untuk apa Nanny bekerja?"
"Untuk membeli gaun. untuk dipakai di pesta Pio."

pesta Pio berlangsung malam. sorenya setelah Nanny mandi. ia segera berganti pakaian.
"Nanny, ini hadiah untuk kamu, sayang!" kata Ayah memberikan hadiah kepada Nanny.
"Terimakasih, Ayah!"
Nanny segera membuka, ternyata sebuah gaun yang ia impi-impikan dari dulu. pasti George yang memberitahu Ayah. terimakasih George! terimakasih Ayah!
tok tok tok ..
"Masuk!" kata Nanny. "eh, Kak Vanya. ada apa, Kak?" tanya Nanny.
 "Mau kakak, make-up in tidak?" tawar Kak Vanya.
"Boleh, Kak! silakan!" kata Nanny mempersilahkan.
lima belas menit kemudian.
"Kamu cantik sekali, Nanny!" puji Kak Vanya.
"Terimakasih. ini berkat kakak juga!" jawab Nanny merendah.

"Nanny, kami cantik sekali!" puji Pio. "gaunnya indah," lanjutnya.
"Terimakasih," jawab Nanny.
"Btw, makasih juga kamu udah datang!" katanya menerima kedatangan Nanny.
 "Iya,"


Happy Ending, Bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar