Minggu, 21 April 2013

ITALY



Yeah negara ini menjadi negara kedua yang aku suka setelah Indonesia :)

negara ini menjadi indah ditambah dengan ciri khasnya yaitu menara Pisa.


menara ini cukup menawan dan terdaftar dalam 7 keajaiban dunia pada saat itu. menara ini dalam bahasa italia : Torre di Pisa . -wih lu kotau Nis?- -iya gue browsing, ups- yang berarti menara miring Pisa :). sebenarnya menara ini dibangun tidak miring seperti ini, miring karena dimakan usia, yang dibangun pada Agustus 1173. kira-kira sudah berapa ratus tahun ya? :o. menara ini dibangun pada bentuk vertikal seperti menara lonceng umumnya. Ia terletak di belakang katedral dan merupakan bangunan ketiga Campo dei Miracoli(lapangan pelangi) kota Pisa.
Ketinggian menara ini adalah 55,86 m dari permukaan tanah terendah dan 56,70 m dari permukaan tanah tertinggi. Kelebaran dinding di bawahnya mencapai 4,09 m dan di puncak 2,48 m. Bobotnya diperkirakan mencapai 14.500 ton. Menara Pisa memiliki 294 anak tangga. Dengan adanya menara ini, sektor pendapatan ekonomi jadi bertambah karena adanya objek wisata.


Selain menara miring Pisa, di Italia juga terdapat Colosseum yang menambah kemegahan negara ini . bangunan ini merupakan arena gladiator. dibangun atas komando Walikota Vespasian pada masa Domitianus. Colosseum dapat menampung 50.000 orang penonton yang akan menonton gladiator tsb. Colosseum didirikan berdekatan dengan sebuah istana megah.Lantai dari arena Colosseum tertutupi oleh pasir untuk mencegah agar darah-darah tidak mengalir kemana-mana. 


sudah ya guys :)

BANYUWANGI BEACH WOOD TOY (2)

ini lanjutannya guys :) selamat membaca \=D/

       “Kau sudah sadar, Nya?” tanya Siti sambil memberiku minyak kayu putih.

“Kenapa aku?” Aku tersadar dari mimpi buruk. “Apa aku bermimpi buruk?”
“Tidak, kau barusaja sadar dari pingsanmu,” terang Ghani.
“Anya tidak lemah dan Anya tidak boleh pingsan,” kataku sambil senyum dan berusaha duduk. Aku melihat sekelilingku, dan tak sadar, Rayon membalikkan badan dan melihatku dengan tajam. Aku kaget.
“Biar kubantu,” kata Siti membantuku.
“Iya terimakasih,” kataku.
Brrrlll .. “Bunyi apa  itu?” tanya Ghani.
“Sepertinya, perutku mulai berdendang,” kata Kumar mengaku dan meringis.
“Kalian boleh makan di rumahku,” tawar Rayon mempersilahkan. “Biar kubantu,” kata Rayon kepadaku.
“Iya, tolong bantu Anya, Yon,” kata Siti membiarkan Rayon melakukan hal itu.
Tentu saja, aku berjalan dengan dibantu Rayon. Mata bulat Rayon indah. Membuatku jatuh cinta kepadanya. Ah, ini bak mimpi bertemu seorang pangeran. Rayon menatapku, mungkin dia tau aku sedang memerhatikannya.
“Ada apa?” tanya Rayon judes.
“Tidak.” Aku berbohong.
“Kau tega-teganya plagiat,” tuduh Royan.
Plagiat apa-an? Enak saja,” kataku.
“Kata-kata ‘Anya tidak lemah dan Anya tidak boleh pingsan’. Kau tidak boleh menggunakannya,” larang Rayon.
“Loh mengapa? Itu hak semua orang, dan kata-kata itu kata-kata ku!” kataku mulai marah.
“Itu sebuah kalimat yang kudengar dari seseorang yang kucintai. Dia namanya Anya, teman kecilku,” jelas Rayon.
“Oh kau rupanya memiliki teman saat kecil, pst, kukira tidak pernah punya teman. Cepat lepaskan aku,” kataku dan segera berlari menyusul teman-temanku, walau kadang aku terjatuh. “Hei! Tunggu!” cegahku.
“Loh? Nya? Rayon?” tanya Siti kebingungan.
“Kita pulang sekarang, udah sore,” ajakku.
“Masih betah di sini, Nya,” kata Ghani.
“Ayolah! Turuti aku! Kalau kalian gak mau, aku bisa pulang sendiri,” kataku. Aku kembali pada tempat Rayon masih berdiri, kuambil tasku dan berjalan menuju halte – yang berada di sebelah pantai – tanpa pamit kepada mereka.
“Anya! Tunggu! Aku pulang bersamamu!” teriak Siti. Aku tak menghiraukan teriakannya.
                                                                        ****
            “Kau merasa sepi?” tanya Kumar saat jam kosong pagi itu.
“Tidak. Kau jangan sotoy deh jadi orang!” bentakku.
“Kau lagi dapet ya, Nya?” tuduh Kumar.
Aku melirik tajam ke arahnya.
“Eh eh takut aku! Nya, kamu kangen Rayon ya?” tanya Kumar kepo.
Aku terdiam, aku menyadari, bahwa aku mengenal sosok Rayon – yang telah mengisi hari-hariku minggu lalu – dalam hidupku.
“Ya kan ya kan!” kata Kumar sambil menunjuk ke muka-ku.
Aku membuang jari-jari Kumar dari hadapanku.
“Anya!” sapa Siti. “Nih aku bawa minuman!” kata Siti memberiku sebotol minuman.
“Makasih, Sit!” kataku membuang muka lagi.
“Anya kenapa, Mar?” tanya Siti berbisik.
“Aku juga tidak tau, aku nanyak malah dibentak,” jawab Kumar.
“Dia kangen Rayon?” tanya Siti.
“STOP! Jangan sebut nama ‘Rayon’ di hadapanku,” Aku berlari ke luar kelas. Membelok ke arah kanan dan brakk .. aku menabrak seseorang.
“Nya! Kemana?” tanya Ghani yang ternyata bertabrakan denganku.
Sepi! Sejak mereka mengenal Rayon, mereka serasa lupa denganku. Kalian tidak tau! Rayon kejam! Kejam terhadapku! Dia menyamakan diriku dengan teman kecilnya yang tak berguna itu. Aku niat bolos sekolah.
            Aku melempar tasku ke sofa saat setelah sampai rumah.
“Loh? Nya?” kata Rere kaget.
“Apa? Kaget? Waw?” sindirku dengan kebiasaan Rere bilang ‘waw’ ‘waw’ dan ‘waw’.
“Kau? Membolos? Aku akan menelepon mama!” kata Rere mengancamku.
“Tidak takut. Kau sendiri juga membolos,” sindirku.
“Aku libur Anya!” bentak Rere dan sesegera mungkin aku menutup lubang telingaku.
                                                                        ****
            “Hei hei! Siapa yang membolos?!” tanya tante Mira bentak kepadaku.
“Aku tante,” jawabku santai.
“Kenapa membolos Anya!” Tante Mira mulai mengeluarkan jurusnya, yaitu muncul asap dari atas kepalanya.
“Bosen sekolah,” jawabku enak.
“Permisi! Hei Anya! Itu tempat dudukku! Sini pindah kamu di kursi ini! CEPAT!!!” perintah Rere. Apaboleh buat, aku menuruti anak manja, cengeng dan tentu saja kejam itu.
“Iya iya,” kataku dan berjalan santai.
“Kamu mau hukuman apa Anya? Membolos itu perbuatan tercela! Disetrika? Dipukul? Ditampar? Apa? Kau minta apa?” tanya tante Mira memberikan balasan.
Huh dasar tante ndeso*), hukuman ya kayak gitu -_-
“Gak ada yang lebih cetar membahana, te?” tawarku kepada hukuman yang lebih berat.
“Kau mau? Diusir?” tanya tante Mira.
Aku kaget, mataku membelalak, untung tidak copot. “Tidak, dipukul saja,” jawabku ikhlas.
Plak plak plak ..
Tante Mira memukuli aku dengan sapu kerik. Rasanya sakit, perih, dan membosankan.
“Makasih tante!” kataku setelah tante Mira berjalan menjauh.
Tante Mira melirikku, “Anak kok gak bosan-bosannya kena hukuman.”
Aku mencoba berdiri dari kursi untuk menuju kamarku. Tapi rasanya ada yang memberi lem sehingga aku tak dapat bangun. Rupanya ada permen karet. Pasti Rere.
“RERE!!!” panggilku.
“Apa lagi sih anak pungut?” tanya Rere.
“Cepat lepaskan permen karet ini!” perintahku.
“Tidak mau, lepas saja sendiri!” kata Rere bak bergaya seorang model.
Aku berusaha bangun dari kursi ini. Sekuat tenaga. Jujur, aku membutuhkan pisau untuk memotong permen karet ini. Tapi Rere tidak mau membantuku mengambilkan pisau. Jadi, aku harus berusaha sendiri. Ciaaaaa!!!
                                                                        ****
            “Nya,” sapa Siti pagi itu.
“Apa? Kau mau menyebut nama anak itu lagi?” sindirku.
“Tidak. Nya, nanti ikut aku ya! Aku punya sesuatu untukmu,” kata Siti tersenyum.
“Apa? Rahasia?” Aku tertunduk. “Sekarang kalian seperti menjauh dariku. Sekarang, menyembunyikan sesuatu dariku.”
*) tidak tau apa-apa
“Tidak, nanti kamu bakal tau sendiri,” kata Siti menenangkanku.

            Siti menutup mataku dengan sehelai kain dan diikat di bagian belakang kepalaku.
“Maju terus yak!” kata Siti menuntunku berjalan.
“Sudah?” tanyaku.
“Iyak, kau boleh melepas kainnya, tapi perlahan.”
1 2 3 ..
“HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY , HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY TO YOU!”
Serentak semua orang yang menyayangiku datang untuk mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ padaku. Iyap, aku hari ini berulang tahun ke 16. Tapi, aku sendiri lupa kalau hari ini usiaku bertambah.
“Selamat ulang tahun ya sayang. Semoga panjang umur, sehat selalu, sekolahnya lancar. Amin!” kata tante Mira memberi permohonan dan ucapan serta membawa kue ulang tahun untukku. “Maaf sayang, kemarin tante disuruh teman-temanmu berbuat seperti itu.”
“Iya tante gak papa. Itu kan juga salah Anya!” kataku meminta maaf.
Tante pergi menjauh dan berdiri di balik teman-temanku.
“An!” panggil seseorang.
Aku seperti teringat masa lalu seseorang memanggilku dengan sebutan yang berbeda. Aku mencari sumber suara itu. Aku berbalik ke belakang. Rayon!
“Aku merindukanmu!!!” teriakku kepada Rayon dan berlari untuk memeluknya.
“Aku juga rindu padamu. Kau tau? Aku Joni. Teman masa kecilmu. Sejak aku mengetahui bahwa kamu bernama Anya. Aku sudah punya feeling kalau kamu orang yang kucintai sejak kecil,” kata Rayon. Rayon melanjutkan, “Dan feeling itu benar saat kau bilang ‘Anya tidak lemah dan Anya tidak boleh pingsan’ dan itu membuatku semakin percaya kalau kau Anya. Aku juga mencari informasi tentangmu kepada teman-temanmu,” Rayon tersernyum.
“Dan mengapa kau berganti nama, kalau sebenarnya dirimu Joni?” tanyaku bingung.
“Nama asliku memang Rayon. Joni hanya nama kecilku, dan sekarang aku membenci nama itu karena terlalu kampungan.”
“Oh,” Aku hanya ber-oh.
“Aku mencintaimu. Kau mau memiliki hubungan lebih denganku? Lebih dari sahabat,” tanya Rayon tersenyum. Aku mengangguk bahagia senang gembira. Tak tau apa yang kurasakan. Semua menjadi satu untuk Rayon. Cinta.
“Selamat kak Anya!” Seseorang berteriak memberi ucapan. Aku kebingungan mencari suara itu.
“Rere?!” tanyaku bingung. “Rere! Sini!” pintaku.
“Kak Anya maaf selama ini Rere kasar kepada kakak. Seharusnya Rere menghormati kakak, bukan mencemooh atau ngerjain kakak. Maafin Rere ya kak!” kata Rere lesu.
“Iya gak papa, maaf juga kakak gak bisa jadi kakak yang baik,” kataku memeluk Rere.
                                                                        ****
            Rasanya tadi malam itu malam terindah sepanjang hidupku. Aku berangan-angan menjadi putri. Dan itu terwujud malam itu. Aku berangan-angan memiliki pangeran. Dan terwujud, dialah Joni, eh Rayon. Terimakasih Tuhan ..
Aku menghadap langit cerah pagi itu.
“Hei An! Coba kemari!” kata Rayon.
Aku berlari ke arahnya, “Ada apa?” tanyaku.
“Bantu aku menggali ini,” kata Rayon. Aku melihat teman-teman dan keluargaku sedang berbahagia dengan caranya masing-masing.
Kruk kruk kruk ..
“Mainan ini? Masih kau simpan rupanya,” Aku tersenyum lebar. Bangga kepada Rayon.
“Mau mencoba nya sekali lagi?” tawar Rayon.
“Berdua ya?” kataku.
“Hei Ghani! Coba potret kita saat meluncur dari bukit itu ya!” pinta Rayon.
“MELUNCURRR!!!!” kata Rayon dan aku bersama
Cekrik ...
                                                                        ****


BANYUWANGI BEACH WOOD TOY


ini ada cerita segar. selamat membaca \=D/

“Tolong!!! Joni tolong, aku tenggelam!” teriak Anya meminta pertolongan kepada Joni. Joni terlihat bingung dan segera menyelamatkan Anya. Dia berenang demi seseorang yang dia cintai. Melawan besarnya ombak yang menghantam demi Anya. Akhirnya Anya sukses diselamatkan Joni.
“Kau baik-baik saja, An?” tanya Joni kepada Anya setelah Anya membuka mata.
“Iya baik, terimakasih pahlawanku,” jawab Anya.
“Pahlawan? Aku seorang pahlawan? Tidak. Aku melakukan itu karena aku sungguh menyayangi dan mencintaimu, Anya.” Anya diam membisu. Benarkah Joni orang yang selama ini dia cari untuk menemani hari-harinya yang kelabu?
“Tidak, kau pahlawanku, aku berutang budi kepada-mu, Jon,” kata Anya.
“Sudah tak usah dipikirkan. Gimana kalau kita bikin mobil-mobilan dari kayu?” tawar Joni, Joni harap dengan usahanya ini bisa membuat Anya lupa apa yang telah ia alami.
“Tentu,” jawab Anya.
Mereka menyiapkan beberapa alat untuk membuat mainan itu agar layak digunakan. Beberapa gelondongan kayu, gergaji dan macam-macam alat lainnya.
Pertama, Joni membuat kayu itu menjadi bentuk balok, dan Anya membuat empat bulat, yang akan menjadi roda. Kedua, mereka rekatkan dengan paku. Ketiga, hampir selesai, tinggal memberi warna pada karya yang mereka buat. Dan selanjutnya mereka dapat menggunakannya.
Tanah tempat tinggal mereka, Banyuwangi – pesisir Timur pulau Jawa – sangat pas untuk dibuat main mobil-mobilan, karena tanahnya yang agak miring. Sehingga mempermudah, meluncurnya mobil-mobilan.
“Bagaimana kalau aku duluan yangg menaiki-nya?” pinta Anya sambil mengangkat satu alisnya.
“Oke! Aku akan mendorongnya dari belakang,” kata Joni. “Sudah siap? Meluncur! Pegangan yang kuat Anya!” teriak Joni saat Anya telah meluncur setengah perjalanan. Joni mengikuti arah mobil-mobilan – yang dinaiki Anya – melaju. Saat sudah berada di bawah, Joni mengangkat kembali mobil-mobilan tersebut ke atas.
“Sekarang giliran kamu, Jon!” kata Anya tersenyum.
Joni mengangguk, “Dorong yang kuat ya, An!” pinta Joni.
“Meluncur!!!” teriak Anya.
Karena luncuran Anya yang membelok, akhirnya Joni menabrak pohon kecil yang berada di samping area permainan mereka.
“Hahahaha,” Anya tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arah Joni.
Joni tidak merespon, “Jon, Joni!” panggil Anya seraya berjalan mendekati Joni. Anya memukul-mukul pundak Joni, tapi tetap saja Joni tidak merespon. Anya sedih, Joni kenapa?
“Jon, bangunlah! Aku kesepian,” kata Anya sambil menitikan air mata.
Rumput bergoyang seperti mengetahui kekosongan hati Anya. Anya, seorang anak kecil yang terlantar di tepi pantai. Saat itu kebetulan orangtua Joni melihatnya, mengetahui keadaan Anya, akhirnya mereka mengadopsi Anya sebagai anak mereka. Dan kini, ia bahagia bisa tertawa lepas karena tingkah Joni.
“Waaaa!” teriak Joni membuat Anya kaget.
“Loh?” Anya tampak bingung.
“Kenapa, An?” tanya Joni.
“Ah kamu, ngerjain aku ya!” Anya sebel melihat tingkah Joni yang keterlaluan.
“Langsung nesu*). Maafin dong, An. Aku Cuma bercanda tadi,” kata Joni.
“Iya, iya gak papa. Istirahat dulu yuk, capek udahan!” ajak Anya.
“Ke rumah aja, kalau gak salah ibu masak sayur sup untuk kita. Kan seger!” tawar Joni, Anya mengangguk setuju. Anya tersenyum, melihat kebahagiaan ini.
*) marah
                                                                        ****
            “Pagi tante,” sapaku kepada Tante Mira. Dia dan Om Bayu yang merawatku sekarang. Hidup dengan rumah mewah, fasilitas lengkap membuatku nyaman dan tidak memikirkan kesusahan LAGI.
“Iya pagi juga sayang! Ayo sarapan dulu,” ajak Tante Mira.
“Iya tante, om Bayu sama Rere kemana?” tanyaku yang menyadari mereka belum nongol.
“Ganti baju mungkin,” tante Mira mengangkat kedua pundaknya.
“Eh minggir-minggir, ini kursi-ku. Tidak seorang pun yang boleh mendudukinya,” kata Rere kejam terhadapku. Ini salah satu hal yang membuatku bosan hidup di sini. Rere!
“Ngh, itu kursi masih banyak, di samping tante Mira kan juga bisa!” bentakku. Rasanya aku sudah menganggap rumah ini bak rumahku. Sekalipun aku teriak, karaoke, menangis kencang, tak ada yang peduli.
“Eh enak aja kamu. Di sini aku yang berkuasa, jadi aku harus duduk di depan mamaku!” kata Rere.
“Anya sayang, boleh kan kamu mengalah sekali lagi,” kata tante Mira lembut kepadaku.
“Kalau bukan karena tante Mira aku tidak akan pindah. Sini cepat!” kataku sambil melirik kejam kepada Rere.
“Ugh itu gara-gara mama sama papa mengadopsi anak nakal seperti dia,” celoteh Rere.
“Ish jangan bilang seperti itu. Dia sepupumu, jadi masih ada hubungan,” cegah om Bayu.
“Sudah, cepat habiskan sarapan kalian!” tante Mira menyuruh kami. Kami? Aku dan Rere.
                                                                        ****
            “Selamat pagi,” sapa bu Amy. Dia wali kelas di kelas x-3. Cerewetnya minta ampun, anak-anak di kelas ku tidak kuat dengan cerewetnya. Meskipun terkadang dia baik hati dan murah nilai terhadap muridnya, tapi ketika seorang anak disuruh untuk menuruti perintahnya, dia harus bersabar, karena bu Amy selalu berpindah utek. Waw!
“Pagi, bu Amy!” jawab anak-anak serentak.
“Yujin! Buang permen karet-mu. Itu menjijikkan di hadapan saya,” kata bu Amy keras menyentak Yujin. Yujin, murid terbodoh di kelas ini. Dari namanya saja dia terlihat kampungan, haha.
“Iya bu,” kata Yujin menjawab dengan tak sopan-nya.
“Kita mulai pelajaran kita,” kata bu Amy mengawali.
                                                                        ****
            “Tolong tolong aku!” teriak seorang putri yang sedang dalam kesusahan.
Dari arah barat muncul seorang pangeran yang menunggangi kuda terbangnya, dan segera menolong tuan putri.
“Pangeran, tolong selamatkan aku!” pinta tuan putri. Pangeran segera bertarung dengan raksasa hitam yang menangkap tuan putri.
Cia cia cia !!!
Bruk , raksasa lemah itu pun mati di tangan pageran.
“Kau baik-baik saja tuan putri?” tanya pangeran dan menggenggam kedua tangan tuan putri.
“Aku baik-baik saja. Terimakasih telah menyelamatkanku. Maukah kau ikut denganku menuju istana ibundaku?” tawar tuan putri.
“Tentu, mari denganku menunggang kuda putih milikku,” kata pangeran.
“Kau tampan, pangeran,” puji tuan putri.
“Terimakasih,” kata pangeran rendah hati diiringi senyum manja.
“Ini istana kerajaan ibundaku,” kata tuan putri setiba-nya di istana.
“Megah tuan,” puji pangeran.
“Apa kau dari kalangan kerajaan, nak?” tanya ibunda tiba-tiba.
“Tidak, aku hanya seorang rakyat jelata.”
“Pergi! Istana ini tidak sudi menerima tamu rakyat jelata!” kata ibunda.
“Bunda, dia temanku. Dia telah menyelamatkanku dari raksasa,” kata tuan putri membela.
“Ngapain dia menyelamatkanmu nak? Aku bahagia bila kamu mati!” kata ibunda kejam.
Tuan putri meneteskan air mata ..
                                                                        ****
            “Mimpimu membosankan sekali,” cemooh Ghani.
“Yang menjadi pangeran siapa?” tanya Siti.
“Tidak, aku tidak bisa melihat siapa yang menjadi pangeran dalam mimpiku, di situ dia tidak jelas,” jawabku.
“Apa kau yakin itu bakal jadi nyata?” tanya Kumar.
“Entah, aku meyakini mimpi itu bakal terjadi,” kataku sambil menghembuskan nafas.
“Kau mau ikut denganku? Aku punya sebuah tempat indah, nyaman tapi sedikit gersang,” tawar Ghani.
“Kami boleh ikut? Atau Anya saja?” tanya Kumar meragukan.
“Ngh. Tentu kalian semua,” jawab Ghani.
“Baiklah, sepulang sekolah,” kata Siti.
                                                                        ****
            “Kau bisa melompatinya?” tanya Kumar kepadaku. Di hadapanku ada sebatang kayu yang menghalangi perjalananku.
“Tentu,” jawabku memastikan. Aku segera melompati kayu tersebut. Dan apa yang terjadi...?
Bruk .. aku terjatuh.
“Kau tak apa?” seseorang memberikan tangannya untuk menolongku.
Aku menggapai tangan itu, “Terimakasih.”
“Sama-sama. Sendirian?” tanya-nya.
“Tidak, mereka teman-temanku,” jawabku sambil menunjuk ke arah utara.
Tampak, Siti melambai-lambai ke arah pemuda itu. Um, Siti memalukan. Tapi, nyatanya pemuda itu baik dan ramah, dia membalas lambaian Siti. Entah, rasanya hatiku dag dig dug.
“Boleh bergabung?” pinta pemuda itu.
“Tentu,” jawab Kumar dan Ghani.
“Kalian sekolah dimana? Oh iya, perkenalkan namaku Rayon,” kata pemuda itu, yang ternyata bernama Rayon.
“SMAN 4 Banyuwangi.”
“Namaku Siti,” kata Siti memperkenalkan diri, dan berjabat dengan Royan.
“Aku Ghani,” kata Ghani dari kejauhan. Ghani sedang sibuk bermain dengan pasir pantai.
“Aku lah yang paling ganteng di sekolah. Kumar,” kata Kumar menyombongkan diri di hadapan Rayon.
Aku terdiam, melihat tingkah konyol teman-temanku.
“Nah kalau kamu?” Rayon menoleh ke arahku, yang sedang ada di belakangnya, dan tentu saja terlihat bingung dengan sikap temanku.
“Aku?” tanyaku sambil menunjuk ke arahku sendiri.
“Iya kamu. Siapa namamu?” tanya Rayon mengulangi.
“Anya,” jawabku sambil senyum.
Rayon terdiam, “Aku seperti pernah mengenal nama itu,” Dia tersenyum. Dan sepertinya mulai melupakan tentang masa lalunya yang mengenal namaku.
“Kau punya mainan, Yon?” tanya Ghani.
“Ghani! Kamu seperti anak kecil saja!” teriakku.
“Memang. Terus kamu mau apa lek aku jek*1 cilik*2?” ejek Ghani menjulurkan lidah kepadaku. Ghani memang masih bersikap childist. Padahal umurnya paling tua diantara kami
“Punya. Seperangkat mainan kayu,” jawab Rayon.
“Mana? Cepat bawa kemari,” kata Siti menyuruh Rayon mempercepat langkah.
Aku duduk melamun di bangku yang disediakan untuk para pengunjung pantai ini. Rayon datang dengan membawa tiga mobil-mobilan.
Rasanya aku pernah melihat ini semua, batinku.
“Tolong! Tolong!” Aku melihat seorang anak kecil sedang meminta bantuan. Dan seorang anak lelaki berenang untuk menolongnya.
Sret .. tangan Kumar menghalangi pandanganku.
“Kau kenapa?” tanya Kumar.
“Lihat! Seorang anak kecil sedang tenggelam!” tunjukku ke tengah laut.
“Mana? Tidak ada, Anya!” kata Kumar.
“Itu, lihatlah!”
“Kau hanya menghayal, Anya!” kata Ghani.
Rasanya gelap ..
*1 masih          *2 kecil
                                                                        ****
     
to be continue~

CEMBURU MENGACAUKAN SEGALA HAL

guys, aku boleh curhat kagak? sedih nih :") . -ih sape lo- . apaan sih, blog2 gua uh dasar -_-

guys, bantu gue, gue lagi ada msalah ini :"). pacar gue cemburu sama kk kelas gue kelas 8. aku hrus gimana? -eh buset deh lo, aku kamu niye skrg- -udah diem lo- . aku harus gimaana? :'( dia nggk prcya sama aku lagi ,,semua berawal dr aku mulai on bbm lagi, nah di situ aku sering chat sma si R (kk kelas 8,red) , tiap aku on bbm, dia sllu ngeping aku dluan. dan tiap kali aku on twitter (@AnissaB_Fitria . follow ye \=D/) dia yg sllu ngemention aku dluan. kata apri (pacar gue, red) dia juga punya fotoku bnyk dibanding foto pcrnya sendiri. dan apri bilang ke aku, dia dicritain temennya, klu R lebih bhagia klu chat sma aku. dan satu lagi, R sllu mendesakku agar accept LINE nya . dia juga ndesak aku untuk ngasih ID whatsapp, btw, emg whatsapp ada ID nya ye? -ada gubluk lu- -hehe sorri gue ndeso -_- -. tp untung aja aku nggk ngasih nomer buat pertemanan whatsapp *hft* .


si Apri udah terlanjur nyalahin gue guys, dia nyudutin aku klu aku sllu ngrespon si R. pdhl, jujur, gue tau R itu udah pny pcr, jd klu chat2an sma gue tp biasa aja kan gk msalah. tp guys 3-| . ada satu kalimat yang mungkin mbuat Apri merasa cemburu . saat itu aku sama R chat, dan dia menanyakan bagaimana klu aku ditinggal sama Apri suatu saat nnti , dia bilang 'sing kuat yo' akunya jwb 'insyaallah' dan dia jwb gini 'tenang kn masih ada aku' . mungkin dr situ --- dan saat td gue tnya ke R mksdnya dia apa gini ke gue, dia blg cuma iseng. dan Apri ttp gk prcaya :'( . gue sbnrnya juga ngrasa klu R itu mungkin suka gue, tp kan gk msalah toh ? asalkan aku bisa jga hatiku buat Apri :') . dukung aku dan bantu do'a ya guys :")


plis guys, bantuin gue untuk mbuktiin ke apri :"( gue sllu mewek tiap kali apri nyalahin aku , nyudutin aku :(

A Thousand Years


ini aku persembahkan untuk kalian pembaca setia blogku :)

Halo, namaku Anna, Annabel Cyrus. Cyrus adalah nama dari keluarga besar ayahku. Dan itu merupakan adat istiadat ?! umurku ? aku malu untuk mengatakan berapa lama aku hidup di bumi :D. Yang jelas, aku bukan anak kecil, maupun dewasa. Lebih tepatnya, teenager. Aku belajar di salah satu sekolah sederhana – penuh prestasi dan menjadi kebanggaan – yang juga diperhatikan oleh ayahku. Maksudnya, ayahku adalah salah seorang komite di sekolah-ku.
            2 ekor kucing yang lucu selalu menemaniku tiap pulang sekolah. Belaian dari ibu, kini hilang diterpa angin. Ibuku meninggal sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu aku masih sekolah dasar. Hanya ayahku yang merawatku mati-matian hingga banting tulang. Kucing pemberian ibu - saat aku ulang tahun ke-3th – masih kujaga selalu. Kucing berbulu putih dan terdapat kalung yang dapat berbunyi, seringkali menghiburku dengan gerakannya yang lincah.
            Pagi ini, aku diantar ayah pergi sekolah. Sejujurnya, aku sangat tak enak dengan ayah, juga merasa malu diliat teman-teman. Setiap harinya, aku naik sepeda santai dan melihat pemandangan kota untuk pergi bersekolah.
“Makasih yah !” kataku tersenyum tulus kepada ayah.
“Belajar yang sungguh ya, Anna!” pinta ayah tiap harinya kepadaku. Aku anak tunggal yang dimiliki ayah. Jadi, ayah selalu memberikan yang terbaik hanya untukku dan tetap untukku.
Aku berjalan menyusuri koridor yang disinari terang cahaya mentari, dengan dipenuhi keramaian oleh siswa yang sedangg mengobrol sebelum jam pelajaran dimulai, aku tanpa sengaja menabrak seorang laki-laki dari arah samping. Dia sungguh tampan, menawan hatiku, wajahnya bersih, putih, dan .. baik hati. Dia meminta maaf kepadaku. Oh sungguh aku tergila karena-nya.
“Em, maafkan saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca, seakan-akan merasa bersalah.
“Oh tak apa, ini kesalahanku,” aku tersenyum menatapnya. Dia membalas senyumku, dan segera meninggalkanku.
Baru kali ini aku menemuka sesosok laki-laki tampan tanpa sedikit noda di hidupnya. Oh, malaikatku, aku akan mengejarmu.
Prak ..! ~
Seseorang menapar paha-ku, saat aku terduduk manisa dan mengingat kejadian tadi.
“AAAWWW!!! Sakit Mi!” bentakku.
Demi merasa tak punya dosa atas kesalahannya . ah dasar cewek gila.
“Kasian!” katanya sambil menjulurkan lidahnya yang basah – penuh dengan liur itu –
“Ih, kau cewek terjorok yang kutemui selama hidupku, Mi!” kataku buang muka dan menutup mataku – tak mau melihat Demi –.
“Kau kenapa melamun?” tanya Demi peduli.
“Ah, pasti ada maunya kau menanyakan hal seperti itu, bukan?” tebakku.
“Tidak, Anna sayang!” katanya sambil mencubit pipi kiriku.
“Aww! Kau sahabat terkonyol Demi!” kataku menyesal. “tapi aku sayang” lanjutku sambil tersenyum lebar, dan menunjukkan ekspresi bahwa aku sedan membuat lelucon.
“Iya, aku tau kau emang lucu dan humoris. Lalu, kenapa kau melamun menatap tembok kayu yang kusam dan kosong itu coba? Kau gila sudah, meniruku,” katanya menyombongkan diri, karena aku terkena virus gila-nya.
“Tidak. Aku tadi bertemu pria tampan, bagai malaikat yang diciptakan hanya untukku~,” aku mulai bercerita.
“Kau menghayal,” kata Demi seraya menaik-turunkan tangannya, dan mengalangi pandanganku tentang pria itu.
“Tidak, Demi!! Aku punya feeling yang kuat . oh dia tercipta hanya untukku seorang.”
Demi membuka mulut lebar-lebar, tapi sayangnya ..
TETTT!!!!!! *bel*

..................................................................

“Itu dia, itu dia!!!” tunjukku terkejut melihat pria tadi sedang di hadapanku beberapa meter.
Demi, Katty, Taylor, Bella dan Selena terkejut, dan mengikuti arah jari telunjukku.
“Dia Edward,” kata Bella santai.
“Edward?” aku terkejut. “Waw, kau mengenalnya Bella?” tanyaku.
Bella mengangguk , “Dia satu sekolah denganku dulu.”
“Dia anak kelas apa?” tanyaku.
“4” jawab Bella singkat.
“Oh,” semua ber-oh kecuali aku dan Bella.
.,.,.,.,.,.,
Aku berjalan beriringan dengan Bella – menuju lavatory –
“Edward orang-nya tidak mudah ditebak, dia tidak terkenal, tapi banyak yang tau tentang dirinya. Kau jangan sampai menyukainya,” katanya melarangku.
“Why you speak that?” heran menyusup otakku.
“Dia pria tak kenal wanita,” katanya.
“Aku tidak paham dengan ucapanmu, Bel” kataku jujur.
“Ah kau ini, otaku belum disaluri listrik sih,” katanya sambil menepuk jidat.
“Apa emang?” tanyaku sambil pasang telinga.
“Maksud aku itu, dia kalau udah tau ada yang suka sama dia, itu wanit bakal dibuat sakit hati, tanpa dia pikir bahwa dia punya salah. Kamu bakal dibuat kecewa!” katanya tegas.
“Oh,” aku menampilkan ekspresi tidak sedap dipandang.
“Kenapa? Apa kau terlanjur menyukainya?”tanyanya.
Aku mengangguk pelan-pelan. Takut Bella akan menegurku dan melarangku lagi.
“Tak apa. Kami akan mendukungmu,” kata Bella tersenyum.
“Ah, kalian memang baik. Pantas menjadi sahabatku,” mataku berkaca-kaca, menampakkan haru-ku yang akan mengalir.

..................................................................

“Anna, Edward berjalan itu!” tunjuk Katty.
“Katty, kau tau ?” Suasana hening pagi itu.
“Iya, kami semua sudah tau,” kata Selena.
“Apa kalian mendukungku?” tanyaku resah dan khawatir.
“PASTI!” jawab kelima sahabatku.
Aku tersenyum puas menatap hidupku kini. Dipenuhi semua sahabat yang dapat memahami dan mengerti aku.
“Demi, aku pinjam spidol ya, boleh?” tanyaku sambil tersenyum lebar.
“Tidak. Kau manusia gila,” katanya melucu di hadapanku – sambil menjulurkan lidahnya – yang lagi-lagi basah – di hadapanku –
“Masih mending, daripada kau, wanita jorok,” aku menutup hidungku, dan memutar kedua bolamataku ke satu arah yang sama.
“Iya-iya boleh Anna sayang,” kata Demi sambil menyerahkan spidol ungu – warna kesukaanku – ke tangan mungilku.
“Makasih ya Demi,” kataku sambil mencubit pipi tembemnya.
“Jangan lupa kembali-in!”
.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,
            Pukul empat sore, aku masih belum pulang . ada sebuah kerkel kecil di rumah Zee. Tiba-tiba handhphone-ku bergetar, ayah menelponku.
“Halo, what’s the problem Dad?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Hi, Anna. Kemana saja kau? Ayah mengkhawatirkanmu,” katanya khawatir dan berbicara pelan dari sebelum-sebelumnya.
“Anna kerja kelompok, Dad!” kataku.
“Dimana?” tanya ayah.
“Zee’s home. Kenapa yah?” tanyaku.
“Cepat pulang, apalagi kamu naik sepeda. Ya udah jangan lama-lama, cepat pulang dan hati-hati di jalan, Anna!” ingat ayah.
“Iya, pasti.”

.................................................................

            Dua jam berlalu. Kini, waktu menunjukkan pukul 04.00pm waktu daerah-ku. Hujan lebat mengguyur kota kecil yang aku tinggali. Bagaimana ini ?
“Zee, aku pulang saja, aku pasti dicari oleh ayahku. Boleh aku minta plastik besar yang dapat menutupi tasku dari derasnya hujan ? ada ?” tanyaku.
“Sepertinya ada. Tunggu sebentar,” katanya dan pergi ke belakang.
“Kau yakin akan pulang? Di luar, hujan sungguh lebat,” tanya Katty.
“Iya, jangan khawatirkan aku,” kataku santai.
“Ini, Anna. Cukup ?” tanya Zee.
Aku memasukkan tasku ke dalam plastik besar, kurasa cukup untuk melindungi tasku.
“Ya sudah, aku pulang duluan ya kawan,” pamitku.
            Aku mengayuh pedal ku di tengah hujan ini, angin cukup kencang menerpa jalanan yang kutusuri. Aku takut terbawa angin, kuputuskan untuk menunggu – angin sedikit berhembus biasa – di halte pinggir jalan. Aku mendapati sosok Edward terduduk kedinginan di halte yang sepi itu. Aku mencoba menghampirinya. Dan mulai mengajaknya mengobrol.
“Halo,” pertama-tama aku sapa dirinya.
Dia menoleh ke arahku, oh sungguh, kini, jelas sudah aku melihat tampan yang dia miliki. Tuhan .. kau ciptakan untuknya untuk diriku ?
“Iya, kau yang waktu itu ....” sebelum dia meneruskan kata-katanya, aku menjawabnya.
“Iya, kita pernah bertabrakan di belokan koridor sekolah saat itu,” jawanbku.
“Aku baru ingat. Aku Edward. Kau?” Aku tak pernah bermimpi, malam ini akan menjadi indah, dia menanyakan tentang diriku. Tuhan .. ~
“Annabel. Panggil saja Anna,” aku menjawabnya dengan senyum manis nan elok untuk dipandang. Gigiku yang tertata rapi pun tak lupa untuk ku-show-kan.
“Kau anak kelas apa ?” tanyanya lagi.
“Sembilan,” jawabku dengan huruf yang jelas dan fasih.
“Aku kelas ...”
“Empat, kan?” tanyaku meyakinkan.
“Iya, tau darimana?” tanyanya heran.
“Bella Swan. Kau mengenalnya ? katanya, dia adalah teman sekolahmu dulu,” kataku menyebutkan salah satu tentang Bella – temannya dulu –
“Tentu saja aku mengenalnya,” katanya. Membuatku hatiku menjadi amburadul tanpa tau dimana tempat sepatu sebenarnya. Sepatu di otakku kuletakkan di atas tempat tidur.
“Oh iya. Eh, angin sudah tidak berhembus kencang. Sebaiknya aku pulang, daripada ada sebuah gossip tak sedap, karena malam ini,” aku tersenyum.
“Iya,  bye. Be careful!” katanya mengingatkanku. Aku mengangguk, mengingat pesan-nya.
Kreeekk ..!
“Hai, ayah! Anna pulang!” kataku menyapa ayah.
“Annabel Cyrus ini sudah membuat ayah khawatir rupanya,” kata ayah membuatku sedih.
“Maaf ayah. Tadi angin cukup kencang, Anna takut terbawa angin. Dan Anna mampir mengiup di halte, di sana ada temanku ayah, maaf,” kataku menjelaskan.
“Siapa? Laki-laki?” tanya ayah mulai khawatir.
“Iya,” aku tersenyum lebar, unjuk gigi rapiku.
“Siapa? Ayah harus kenal.”
“Edward Buton.”
“Dia ? jangan dekati dia,” kata ayah.
“Kenapa ?”
“Ayah tidak ingin melihatmu menangis karenanya. Dia manusia yang kejam.”
“Ayah mengetahui tentangnya ?” tanyaku terkejut.
Ah ayah ini mengetahu tentang Edward ? siapa sebenarnya Edward? Hingga ayah tak merestui jika aku menjalin hubungan dengan Edward suatu saat nanti?


to be continued guys :)

Sabtu, 08 September 2012

CEMBURU

apakah anda mengerti dari pengertian cemburu ?

apa anda yakin atas orang yang anda cinta bisa menjaga kepercayaan dan cinta anda ?
apakah ada orang yang mencintai anda dengan tulus di balik layar ini ?
apa anda rela melihat orang yang anda cinta memilih orang yang tepat, tetapi bukanlah anda ? anda yang selama ini selalu mencintai dia, tapi dia tidak pernah sadar ?
apa yang ada di pikiran anda sekarang ? setelah saya bertanya tentag hal-hal yang bersembunyi dari balik layar penglihatan anda ?


coba anda pikirkan pengertian cemburu . cemburu bukan lah sebuah kata yang terdiri atas 7 huruf, yaitu c-e-m-b-u-r-u . tetapi terdapat banyak pengertian di balik tulisan "cemburu"


saya akan bercerita tentang , bagaimana anda jika cemburu !

cemburu dikatakan saat anda, merasa berdegup kencang, ketika melihat orang yang anda cintai dekat dengan orang lain, apalagi jika orang itu adalah sahabat dekat anda. tapi, di sisi lain, anda merasa dikacangkan, karena sebelumnya orang yang anda cintai merasa sangat dekat dengan anda, tiba-tiba, hanya karena masalah sepele, membuat orang yang anda cintai berpaling, dan menjauhi anda .. seperti yang saat ini saya rasakan ..

cemburu adalah sebuah intonasi rendah yang mengakibatkan air mata anda mengalir deras ..
sesuatu yang anda sayang, tiba-tiba cuek kepada anda. tanpa anda sadari, dia telah memliki pujaan hati . setelah anda selidiki, orang yang dia cintai ada;ah orang yang sangat anda kenal . bagaimana perasaan anda ?

saya .. barusaja move on dari R, dan memilih untuk menyukai D. saya rasa, dengan kedekatan kita, D juga menyukai saya . setelah saya lihat, dan selidiki . dia membuat hati saya jatuh ke sumur yang amat dalam. ternyata D menyukai sahabat saya bernama Tasya . akan tetapi, saya belum sepenuhnya mempercayai hal itu . karena saya yakin D menyukai saya :). 
tetapi, saya juga barusaja memikirkan R, dia telah bohong kepada dirinya sendiri. kata dia, dia hanya sekedar memuja, tetapi apa? dia barusaja shoot orang yang dia suka . apa itu yang disebut munafik ? atau apa ? saya tidak tau .

sesuatu akan terjadi bila dilengkapi dengan keyakinan dari hati nurani anda .. 
my seggestion :)
tapi, kalau dari awal anda sudah tidak yakin, hal itu terjadi, maka, Allah tidak menjadikan hal itu terjadi :)


apa yang anda rasakan dengan cerita saya ?
saya tidak peduli apa yang anda rasakan, setelah membaca nya :p


kenang diriku ..
selalu di hatimu ..
selalu di jiwamu ..
simpan di memorimu ..


bray, gue lagi kebingungan atas hidup gue sendiri. tak ada satupun roang menyayangiku lagi . gue mengalami 2 x rasa cemburu .
gue udah tau anak kelas 8 yang disukai R, awalnya gue cemburu, tapi kelamaan, gue sadar, gue hanya 1/10 suka sama dia . 9/10 nya buat D :*




gue cuma bisa kasih segini bray . :)
good noon bray :)!