ini ada cerita segar. selamat membaca \=D/
“Tolong!!! Joni tolong, aku
tenggelam!” teriak Anya meminta pertolongan kepada Joni. Joni terlihat bingung
dan segera menyelamatkan Anya. Dia berenang demi seseorang yang dia cintai.
Melawan besarnya ombak yang menghantam demi Anya. Akhirnya Anya sukses
diselamatkan Joni.
“Kau baik-baik saja, An?” tanya
Joni kepada Anya setelah Anya membuka mata.
“Iya baik, terimakasih
pahlawanku,” jawab Anya.
“Pahlawan? Aku seorang pahlawan?
Tidak. Aku melakukan itu karena aku sungguh menyayangi dan mencintaimu, Anya.”
Anya diam membisu. Benarkah Joni orang yang selama ini dia cari untuk menemani
hari-harinya yang kelabu?
“Tidak, kau pahlawanku, aku
berutang budi kepada-mu, Jon,” kata Anya.
“Sudah tak usah dipikirkan.
Gimana kalau kita bikin mobil-mobilan dari kayu?” tawar Joni, Joni harap dengan
usahanya ini bisa membuat Anya lupa apa yang telah ia alami.
“Tentu,” jawab Anya.
Mereka menyiapkan beberapa alat
untuk membuat mainan itu agar layak digunakan. Beberapa gelondongan kayu,
gergaji dan macam-macam alat lainnya.
Pertama, Joni membuat kayu itu
menjadi bentuk balok, dan Anya membuat empat bulat, yang akan menjadi roda. Kedua,
mereka rekatkan dengan paku. Ketiga, hampir selesai, tinggal memberi warna pada
karya yang mereka buat. Dan selanjutnya mereka dapat menggunakannya.
Tanah tempat tinggal mereka,
Banyuwangi – pesisir Timur pulau Jawa – sangat pas untuk dibuat main
mobil-mobilan, karena tanahnya yang agak miring. Sehingga mempermudah,
meluncurnya mobil-mobilan.
“Bagaimana kalau aku duluan yangg
menaiki-nya?” pinta Anya sambil mengangkat satu alisnya.
“Oke! Aku akan mendorongnya dari
belakang,” kata Joni. “Sudah siap? Meluncur! Pegangan yang kuat Anya!” teriak
Joni saat Anya telah meluncur setengah perjalanan. Joni mengikuti arah
mobil-mobilan – yang dinaiki Anya – melaju. Saat sudah berada di bawah, Joni
mengangkat kembali mobil-mobilan tersebut ke atas.
“Sekarang giliran kamu, Jon!”
kata Anya tersenyum.
Joni mengangguk, “Dorong yang
kuat ya, An!” pinta Joni.
“Meluncur!!!” teriak Anya.
Karena luncuran Anya yang
membelok, akhirnya Joni menabrak pohon kecil yang berada di samping area
permainan mereka.
“Hahahaha,” Anya tertawa sambil
menunjuk-nunjuk ke arah Joni.
Joni tidak merespon, “Jon, Joni!”
panggil Anya seraya berjalan mendekati Joni. Anya memukul-mukul pundak Joni,
tapi tetap saja Joni tidak merespon. Anya sedih, Joni kenapa?
“Jon, bangunlah! Aku kesepian,”
kata Anya sambil menitikan air mata.
Rumput bergoyang seperti
mengetahui kekosongan hati Anya. Anya, seorang anak kecil yang terlantar di
tepi pantai. Saat itu kebetulan orangtua Joni melihatnya, mengetahui keadaan
Anya, akhirnya mereka mengadopsi Anya sebagai anak mereka. Dan kini, ia bahagia
bisa tertawa lepas karena tingkah Joni.
“Waaaa!” teriak Joni membuat Anya
kaget.
“Loh?” Anya tampak bingung.
“Kenapa, An?” tanya Joni.
“Ah kamu, ngerjain aku ya!” Anya
sebel melihat tingkah Joni yang keterlaluan.
“Langsung nesu*). Maafin dong, An. Aku Cuma bercanda
tadi,” kata Joni.
“Iya, iya gak papa. Istirahat
dulu yuk, capek udahan!” ajak Anya.
“Ke rumah aja, kalau gak salah
ibu masak sayur sup untuk kita. Kan seger!” tawar Joni, Anya mengangguk setuju.
Anya tersenyum, melihat kebahagiaan ini.
*)
marah
****
“Pagi
tante,” sapaku kepada Tante Mira. Dia dan Om Bayu yang merawatku sekarang. Hidup
dengan rumah mewah, fasilitas lengkap membuatku nyaman dan tidak memikirkan
kesusahan LAGI.
“Iya pagi juga sayang! Ayo
sarapan dulu,” ajak Tante Mira.
“Iya tante, om Bayu sama Rere
kemana?” tanyaku yang menyadari mereka belum nongol.
“Ganti baju mungkin,” tante Mira
mengangkat kedua pundaknya.
“Eh minggir-minggir, ini
kursi-ku. Tidak seorang pun yang boleh mendudukinya,” kata Rere kejam
terhadapku. Ini salah satu hal yang membuatku bosan hidup di sini. Rere!
“Ngh, itu kursi masih banyak, di
samping tante Mira kan juga bisa!” bentakku. Rasanya aku sudah menganggap rumah
ini bak rumahku. Sekalipun aku teriak, karaoke, menangis kencang, tak ada yang
peduli.
“Eh enak aja kamu. Di sini aku
yang berkuasa, jadi aku harus duduk di depan mamaku!” kata Rere.
“Anya sayang, boleh kan kamu
mengalah sekali lagi,” kata tante Mira lembut kepadaku.
“Kalau bukan karena tante Mira
aku tidak akan pindah. Sini cepat!” kataku sambil melirik kejam kepada Rere.
“Ugh itu gara-gara mama sama papa
mengadopsi anak nakal seperti dia,” celoteh Rere.
“Ish jangan bilang seperti itu.
Dia sepupumu, jadi masih ada hubungan,” cegah om Bayu.
“Sudah, cepat habiskan sarapan
kalian!” tante Mira menyuruh kami. Kami? Aku dan Rere.
****
“Selamat
pagi,” sapa bu Amy. Dia wali kelas di kelas x-3. Cerewetnya minta ampun,
anak-anak di kelas ku tidak kuat dengan cerewetnya. Meskipun terkadang dia baik
hati dan murah nilai terhadap muridnya, tapi ketika seorang anak disuruh untuk
menuruti perintahnya, dia harus bersabar, karena bu Amy selalu berpindah utek.
Waw!
“Pagi, bu Amy!” jawab anak-anak
serentak.
“Yujin! Buang permen karet-mu.
Itu menjijikkan di hadapan saya,” kata bu Amy keras menyentak Yujin. Yujin,
murid terbodoh di kelas ini. Dari namanya saja dia terlihat kampungan, haha.
“Iya bu,” kata Yujin menjawab
dengan tak sopan-nya.
“Kita mulai pelajaran kita,” kata
bu Amy mengawali.
****
“Tolong
tolong aku!” teriak seorang putri yang sedang dalam kesusahan.
Dari arah barat muncul seorang
pangeran yang menunggangi kuda terbangnya, dan segera menolong tuan putri.
“Pangeran, tolong selamatkan
aku!” pinta tuan putri. Pangeran segera bertarung dengan raksasa hitam yang
menangkap tuan putri.
Cia cia cia !!!
Bruk , raksasa lemah itu pun mati
di tangan pageran.
“Kau baik-baik saja tuan putri?”
tanya pangeran dan menggenggam kedua tangan tuan putri.
“Aku baik-baik saja. Terimakasih
telah menyelamatkanku. Maukah kau ikut denganku menuju istana ibundaku?” tawar
tuan putri.
“Tentu, mari denganku menunggang
kuda putih milikku,” kata pangeran.
“Kau tampan, pangeran,” puji tuan
putri.
“Terimakasih,” kata pangeran
rendah hati diiringi senyum manja.
“Ini istana kerajaan ibundaku,”
kata tuan putri setiba-nya di istana.
“Megah tuan,” puji pangeran.
“Apa kau dari kalangan kerajaan,
nak?” tanya ibunda tiba-tiba.
“Tidak, aku hanya seorang rakyat
jelata.”
“Pergi! Istana ini tidak sudi
menerima tamu rakyat jelata!” kata ibunda.
“Bunda, dia temanku. Dia telah
menyelamatkanku dari raksasa,” kata tuan putri membela.
“Ngapain dia menyelamatkanmu nak?
Aku bahagia bila kamu mati!” kata ibunda kejam.
Tuan putri meneteskan air mata ..
****
“Mimpimu
membosankan sekali,” cemooh Ghani.
“Yang menjadi pangeran siapa?”
tanya Siti.
“Tidak, aku tidak bisa melihat
siapa yang menjadi pangeran dalam mimpiku, di situ dia tidak jelas,” jawabku.
“Apa kau yakin itu bakal jadi
nyata?” tanya Kumar.
“Entah, aku meyakini mimpi itu
bakal terjadi,” kataku sambil menghembuskan nafas.
“Kau mau ikut denganku? Aku punya
sebuah tempat indah, nyaman tapi sedikit gersang,” tawar Ghani.
“Kami boleh ikut? Atau Anya
saja?” tanya Kumar meragukan.
“Ngh. Tentu kalian semua,” jawab
Ghani.
“Baiklah, sepulang sekolah,” kata
Siti.
****
“Kau
bisa melompatinya?” tanya Kumar kepadaku. Di hadapanku ada sebatang kayu yang
menghalangi perjalananku.
“Tentu,” jawabku memastikan. Aku
segera melompati kayu tersebut. Dan apa yang terjadi...?
Bruk .. aku terjatuh.
“Kau tak apa?” seseorang
memberikan tangannya untuk menolongku.
Aku menggapai tangan itu,
“Terimakasih.”
“Sama-sama. Sendirian?”
tanya-nya.
“Tidak, mereka teman-temanku,”
jawabku sambil menunjuk ke arah utara.
Tampak, Siti melambai-lambai ke
arah pemuda itu. Um, Siti memalukan. Tapi, nyatanya pemuda itu baik dan ramah,
dia membalas lambaian Siti. Entah, rasanya hatiku dag dig dug.
“Boleh bergabung?” pinta pemuda
itu.
“Tentu,” jawab Kumar dan Ghani.
“Kalian sekolah dimana? Oh iya,
perkenalkan namaku Rayon,” kata pemuda itu, yang ternyata bernama Rayon.
“SMAN 4 Banyuwangi.”
“Namaku Siti,” kata Siti
memperkenalkan diri, dan berjabat dengan Royan.
“Aku Ghani,” kata Ghani dari
kejauhan. Ghani sedang sibuk bermain dengan pasir pantai.
“Aku lah yang paling ganteng di
sekolah. Kumar,” kata Kumar menyombongkan diri di hadapan Rayon.
Aku terdiam, melihat tingkah
konyol teman-temanku.
“Nah kalau kamu?” Rayon menoleh
ke arahku, yang sedang ada di belakangnya, dan tentu saja terlihat bingung
dengan sikap temanku.
“Aku?” tanyaku sambil menunjuk ke
arahku sendiri.
“Iya kamu. Siapa namamu?” tanya
Rayon mengulangi.
“Anya,” jawabku sambil senyum.
Rayon terdiam, “Aku seperti
pernah mengenal nama itu,” Dia tersenyum. Dan sepertinya mulai melupakan
tentang masa lalunya yang mengenal namaku.
“Kau punya mainan, Yon?” tanya
Ghani.
“Ghani! Kamu seperti anak kecil
saja!” teriakku.
“Memang. Terus kamu mau apa lek
aku jek*1 cilik*2?” ejek Ghani menjulurkan lidah kepadaku. Ghani memang masih
bersikap childist. Padahal umurnya
paling tua diantara kami
“Punya. Seperangkat mainan kayu,”
jawab Rayon.
“Mana? Cepat bawa kemari,” kata
Siti menyuruh Rayon mempercepat langkah.
Aku duduk melamun di bangku yang
disediakan untuk para pengunjung pantai ini. Rayon datang dengan membawa tiga
mobil-mobilan.
Rasanya
aku pernah melihat ini semua, batinku.
“Tolong! Tolong!” Aku melihat
seorang anak kecil sedang meminta bantuan. Dan seorang anak lelaki berenang
untuk menolongnya.
Sret
..
tangan Kumar menghalangi pandanganku.
“Kau kenapa?” tanya Kumar.
“Lihat! Seorang anak kecil sedang
tenggelam!” tunjukku ke tengah laut.
“Mana? Tidak ada, Anya!” kata
Kumar.
“Itu, lihatlah!”
“Kau hanya menghayal, Anya!” kata
Ghani.
Rasanya gelap ..
*1 masih *2 kecil
****
to be continue~