Minggu, 21 April 2013

BANYUWANGI BEACH WOOD TOY


ini ada cerita segar. selamat membaca \=D/

“Tolong!!! Joni tolong, aku tenggelam!” teriak Anya meminta pertolongan kepada Joni. Joni terlihat bingung dan segera menyelamatkan Anya. Dia berenang demi seseorang yang dia cintai. Melawan besarnya ombak yang menghantam demi Anya. Akhirnya Anya sukses diselamatkan Joni.
“Kau baik-baik saja, An?” tanya Joni kepada Anya setelah Anya membuka mata.
“Iya baik, terimakasih pahlawanku,” jawab Anya.
“Pahlawan? Aku seorang pahlawan? Tidak. Aku melakukan itu karena aku sungguh menyayangi dan mencintaimu, Anya.” Anya diam membisu. Benarkah Joni orang yang selama ini dia cari untuk menemani hari-harinya yang kelabu?
“Tidak, kau pahlawanku, aku berutang budi kepada-mu, Jon,” kata Anya.
“Sudah tak usah dipikirkan. Gimana kalau kita bikin mobil-mobilan dari kayu?” tawar Joni, Joni harap dengan usahanya ini bisa membuat Anya lupa apa yang telah ia alami.
“Tentu,” jawab Anya.
Mereka menyiapkan beberapa alat untuk membuat mainan itu agar layak digunakan. Beberapa gelondongan kayu, gergaji dan macam-macam alat lainnya.
Pertama, Joni membuat kayu itu menjadi bentuk balok, dan Anya membuat empat bulat, yang akan menjadi roda. Kedua, mereka rekatkan dengan paku. Ketiga, hampir selesai, tinggal memberi warna pada karya yang mereka buat. Dan selanjutnya mereka dapat menggunakannya.
Tanah tempat tinggal mereka, Banyuwangi – pesisir Timur pulau Jawa – sangat pas untuk dibuat main mobil-mobilan, karena tanahnya yang agak miring. Sehingga mempermudah, meluncurnya mobil-mobilan.
“Bagaimana kalau aku duluan yangg menaiki-nya?” pinta Anya sambil mengangkat satu alisnya.
“Oke! Aku akan mendorongnya dari belakang,” kata Joni. “Sudah siap? Meluncur! Pegangan yang kuat Anya!” teriak Joni saat Anya telah meluncur setengah perjalanan. Joni mengikuti arah mobil-mobilan – yang dinaiki Anya – melaju. Saat sudah berada di bawah, Joni mengangkat kembali mobil-mobilan tersebut ke atas.
“Sekarang giliran kamu, Jon!” kata Anya tersenyum.
Joni mengangguk, “Dorong yang kuat ya, An!” pinta Joni.
“Meluncur!!!” teriak Anya.
Karena luncuran Anya yang membelok, akhirnya Joni menabrak pohon kecil yang berada di samping area permainan mereka.
“Hahahaha,” Anya tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arah Joni.
Joni tidak merespon, “Jon, Joni!” panggil Anya seraya berjalan mendekati Joni. Anya memukul-mukul pundak Joni, tapi tetap saja Joni tidak merespon. Anya sedih, Joni kenapa?
“Jon, bangunlah! Aku kesepian,” kata Anya sambil menitikan air mata.
Rumput bergoyang seperti mengetahui kekosongan hati Anya. Anya, seorang anak kecil yang terlantar di tepi pantai. Saat itu kebetulan orangtua Joni melihatnya, mengetahui keadaan Anya, akhirnya mereka mengadopsi Anya sebagai anak mereka. Dan kini, ia bahagia bisa tertawa lepas karena tingkah Joni.
“Waaaa!” teriak Joni membuat Anya kaget.
“Loh?” Anya tampak bingung.
“Kenapa, An?” tanya Joni.
“Ah kamu, ngerjain aku ya!” Anya sebel melihat tingkah Joni yang keterlaluan.
“Langsung nesu*). Maafin dong, An. Aku Cuma bercanda tadi,” kata Joni.
“Iya, iya gak papa. Istirahat dulu yuk, capek udahan!” ajak Anya.
“Ke rumah aja, kalau gak salah ibu masak sayur sup untuk kita. Kan seger!” tawar Joni, Anya mengangguk setuju. Anya tersenyum, melihat kebahagiaan ini.
*) marah
                                                                        ****
            “Pagi tante,” sapaku kepada Tante Mira. Dia dan Om Bayu yang merawatku sekarang. Hidup dengan rumah mewah, fasilitas lengkap membuatku nyaman dan tidak memikirkan kesusahan LAGI.
“Iya pagi juga sayang! Ayo sarapan dulu,” ajak Tante Mira.
“Iya tante, om Bayu sama Rere kemana?” tanyaku yang menyadari mereka belum nongol.
“Ganti baju mungkin,” tante Mira mengangkat kedua pundaknya.
“Eh minggir-minggir, ini kursi-ku. Tidak seorang pun yang boleh mendudukinya,” kata Rere kejam terhadapku. Ini salah satu hal yang membuatku bosan hidup di sini. Rere!
“Ngh, itu kursi masih banyak, di samping tante Mira kan juga bisa!” bentakku. Rasanya aku sudah menganggap rumah ini bak rumahku. Sekalipun aku teriak, karaoke, menangis kencang, tak ada yang peduli.
“Eh enak aja kamu. Di sini aku yang berkuasa, jadi aku harus duduk di depan mamaku!” kata Rere.
“Anya sayang, boleh kan kamu mengalah sekali lagi,” kata tante Mira lembut kepadaku.
“Kalau bukan karena tante Mira aku tidak akan pindah. Sini cepat!” kataku sambil melirik kejam kepada Rere.
“Ugh itu gara-gara mama sama papa mengadopsi anak nakal seperti dia,” celoteh Rere.
“Ish jangan bilang seperti itu. Dia sepupumu, jadi masih ada hubungan,” cegah om Bayu.
“Sudah, cepat habiskan sarapan kalian!” tante Mira menyuruh kami. Kami? Aku dan Rere.
                                                                        ****
            “Selamat pagi,” sapa bu Amy. Dia wali kelas di kelas x-3. Cerewetnya minta ampun, anak-anak di kelas ku tidak kuat dengan cerewetnya. Meskipun terkadang dia baik hati dan murah nilai terhadap muridnya, tapi ketika seorang anak disuruh untuk menuruti perintahnya, dia harus bersabar, karena bu Amy selalu berpindah utek. Waw!
“Pagi, bu Amy!” jawab anak-anak serentak.
“Yujin! Buang permen karet-mu. Itu menjijikkan di hadapan saya,” kata bu Amy keras menyentak Yujin. Yujin, murid terbodoh di kelas ini. Dari namanya saja dia terlihat kampungan, haha.
“Iya bu,” kata Yujin menjawab dengan tak sopan-nya.
“Kita mulai pelajaran kita,” kata bu Amy mengawali.
                                                                        ****
            “Tolong tolong aku!” teriak seorang putri yang sedang dalam kesusahan.
Dari arah barat muncul seorang pangeran yang menunggangi kuda terbangnya, dan segera menolong tuan putri.
“Pangeran, tolong selamatkan aku!” pinta tuan putri. Pangeran segera bertarung dengan raksasa hitam yang menangkap tuan putri.
Cia cia cia !!!
Bruk , raksasa lemah itu pun mati di tangan pageran.
“Kau baik-baik saja tuan putri?” tanya pangeran dan menggenggam kedua tangan tuan putri.
“Aku baik-baik saja. Terimakasih telah menyelamatkanku. Maukah kau ikut denganku menuju istana ibundaku?” tawar tuan putri.
“Tentu, mari denganku menunggang kuda putih milikku,” kata pangeran.
“Kau tampan, pangeran,” puji tuan putri.
“Terimakasih,” kata pangeran rendah hati diiringi senyum manja.
“Ini istana kerajaan ibundaku,” kata tuan putri setiba-nya di istana.
“Megah tuan,” puji pangeran.
“Apa kau dari kalangan kerajaan, nak?” tanya ibunda tiba-tiba.
“Tidak, aku hanya seorang rakyat jelata.”
“Pergi! Istana ini tidak sudi menerima tamu rakyat jelata!” kata ibunda.
“Bunda, dia temanku. Dia telah menyelamatkanku dari raksasa,” kata tuan putri membela.
“Ngapain dia menyelamatkanmu nak? Aku bahagia bila kamu mati!” kata ibunda kejam.
Tuan putri meneteskan air mata ..
                                                                        ****
            “Mimpimu membosankan sekali,” cemooh Ghani.
“Yang menjadi pangeran siapa?” tanya Siti.
“Tidak, aku tidak bisa melihat siapa yang menjadi pangeran dalam mimpiku, di situ dia tidak jelas,” jawabku.
“Apa kau yakin itu bakal jadi nyata?” tanya Kumar.
“Entah, aku meyakini mimpi itu bakal terjadi,” kataku sambil menghembuskan nafas.
“Kau mau ikut denganku? Aku punya sebuah tempat indah, nyaman tapi sedikit gersang,” tawar Ghani.
“Kami boleh ikut? Atau Anya saja?” tanya Kumar meragukan.
“Ngh. Tentu kalian semua,” jawab Ghani.
“Baiklah, sepulang sekolah,” kata Siti.
                                                                        ****
            “Kau bisa melompatinya?” tanya Kumar kepadaku. Di hadapanku ada sebatang kayu yang menghalangi perjalananku.
“Tentu,” jawabku memastikan. Aku segera melompati kayu tersebut. Dan apa yang terjadi...?
Bruk .. aku terjatuh.
“Kau tak apa?” seseorang memberikan tangannya untuk menolongku.
Aku menggapai tangan itu, “Terimakasih.”
“Sama-sama. Sendirian?” tanya-nya.
“Tidak, mereka teman-temanku,” jawabku sambil menunjuk ke arah utara.
Tampak, Siti melambai-lambai ke arah pemuda itu. Um, Siti memalukan. Tapi, nyatanya pemuda itu baik dan ramah, dia membalas lambaian Siti. Entah, rasanya hatiku dag dig dug.
“Boleh bergabung?” pinta pemuda itu.
“Tentu,” jawab Kumar dan Ghani.
“Kalian sekolah dimana? Oh iya, perkenalkan namaku Rayon,” kata pemuda itu, yang ternyata bernama Rayon.
“SMAN 4 Banyuwangi.”
“Namaku Siti,” kata Siti memperkenalkan diri, dan berjabat dengan Royan.
“Aku Ghani,” kata Ghani dari kejauhan. Ghani sedang sibuk bermain dengan pasir pantai.
“Aku lah yang paling ganteng di sekolah. Kumar,” kata Kumar menyombongkan diri di hadapan Rayon.
Aku terdiam, melihat tingkah konyol teman-temanku.
“Nah kalau kamu?” Rayon menoleh ke arahku, yang sedang ada di belakangnya, dan tentu saja terlihat bingung dengan sikap temanku.
“Aku?” tanyaku sambil menunjuk ke arahku sendiri.
“Iya kamu. Siapa namamu?” tanya Rayon mengulangi.
“Anya,” jawabku sambil senyum.
Rayon terdiam, “Aku seperti pernah mengenal nama itu,” Dia tersenyum. Dan sepertinya mulai melupakan tentang masa lalunya yang mengenal namaku.
“Kau punya mainan, Yon?” tanya Ghani.
“Ghani! Kamu seperti anak kecil saja!” teriakku.
“Memang. Terus kamu mau apa lek aku jek*1 cilik*2?” ejek Ghani menjulurkan lidah kepadaku. Ghani memang masih bersikap childist. Padahal umurnya paling tua diantara kami
“Punya. Seperangkat mainan kayu,” jawab Rayon.
“Mana? Cepat bawa kemari,” kata Siti menyuruh Rayon mempercepat langkah.
Aku duduk melamun di bangku yang disediakan untuk para pengunjung pantai ini. Rayon datang dengan membawa tiga mobil-mobilan.
Rasanya aku pernah melihat ini semua, batinku.
“Tolong! Tolong!” Aku melihat seorang anak kecil sedang meminta bantuan. Dan seorang anak lelaki berenang untuk menolongnya.
Sret .. tangan Kumar menghalangi pandanganku.
“Kau kenapa?” tanya Kumar.
“Lihat! Seorang anak kecil sedang tenggelam!” tunjukku ke tengah laut.
“Mana? Tidak ada, Anya!” kata Kumar.
“Itu, lihatlah!”
“Kau hanya menghayal, Anya!” kata Ghani.
Rasanya gelap ..
*1 masih          *2 kecil
                                                                        ****
     
to be continue~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar