ini aku persembahkan untuk kalian pembaca setia blogku :)
Halo, namaku Anna,
Annabel Cyrus. Cyrus adalah nama dari keluarga besar ayahku. Dan itu merupakan
adat istiadat ?! umurku ? aku malu untuk mengatakan berapa lama aku hidup di
bumi :D. Yang jelas, aku bukan anak kecil, maupun dewasa. Lebih tepatnya, teenager. Aku belajar di salah satu
sekolah sederhana – penuh prestasi dan menjadi kebanggaan – yang juga
diperhatikan oleh ayahku. Maksudnya, ayahku adalah salah seorang komite di
sekolah-ku.
2 ekor kucing yang lucu selalu menemaniku tiap pulang
sekolah. Belaian dari ibu, kini hilang diterpa angin. Ibuku meninggal sekitar 4
tahun yang lalu. Saat itu aku masih sekolah dasar. Hanya ayahku yang merawatku
mati-matian hingga banting tulang. Kucing pemberian ibu - saat aku ulang tahun
ke-3th – masih kujaga selalu. Kucing berbulu putih dan terdapat kalung yang
dapat berbunyi, seringkali menghiburku dengan gerakannya yang lincah.
Pagi ini, aku diantar ayah pergi sekolah. Sejujurnya, aku
sangat tak enak dengan ayah, juga merasa malu diliat teman-teman. Setiap
harinya, aku naik sepeda santai dan melihat pemandangan kota untuk pergi
bersekolah.
“Makasih yah !” kataku
tersenyum tulus kepada ayah.
“Belajar yang sungguh
ya, Anna!” pinta ayah tiap harinya kepadaku. Aku anak tunggal yang dimiliki
ayah. Jadi, ayah selalu memberikan yang terbaik hanya untukku dan tetap
untukku.
Aku berjalan menyusuri
koridor yang disinari terang cahaya mentari, dengan dipenuhi keramaian oleh
siswa yang sedangg mengobrol sebelum jam pelajaran dimulai, aku tanpa sengaja
menabrak seorang laki-laki dari arah samping. Dia sungguh tampan, menawan
hatiku, wajahnya bersih, putih, dan .. baik hati. Dia meminta maaf kepadaku. Oh
sungguh aku tergila karena-nya.
“Em, maafkan saya,”
katanya dengan mata berkaca-kaca, seakan-akan merasa bersalah.
“Oh tak apa, ini kesalahanku,”
aku tersenyum menatapnya. Dia membalas senyumku, dan segera meninggalkanku.
Baru kali ini aku
menemuka sesosok laki-laki tampan tanpa sedikit noda di hidupnya. Oh,
malaikatku, aku akan mengejarmu.
Prak
..!
~
Seseorang menapar
paha-ku, saat aku terduduk manisa dan mengingat kejadian tadi.
“AAAWWW!!! Sakit Mi!”
bentakku.
Demi merasa tak punya
dosa atas kesalahannya . ah dasar cewek gila.
“Kasian!” katanya
sambil menjulurkan lidahnya yang basah – penuh dengan liur itu –
“Ih, kau cewek terjorok
yang kutemui selama hidupku, Mi!” kataku buang muka dan menutup mataku – tak
mau melihat Demi –.
“Kau kenapa melamun?”
tanya Demi peduli.
“Ah, pasti ada maunya
kau menanyakan hal seperti itu, bukan?” tebakku.
“Tidak, Anna sayang!”
katanya sambil mencubit pipi kiriku.
“Aww! Kau sahabat
terkonyol Demi!” kataku menyesal. “tapi aku sayang” lanjutku sambil tersenyum
lebar, dan menunjukkan ekspresi bahwa aku sedan membuat lelucon.
“Iya, aku tau kau emang
lucu dan humoris. Lalu, kenapa kau melamun menatap tembok kayu yang kusam dan
kosong itu coba? Kau gila sudah, meniruku,” katanya menyombongkan diri, karena
aku terkena virus gila-nya.
“Tidak. Aku tadi
bertemu pria tampan, bagai malaikat yang diciptakan hanya untukku~,” aku mulai
bercerita.
“Kau menghayal,” kata
Demi seraya menaik-turunkan tangannya, dan mengalangi pandanganku tentang pria
itu.
“Tidak, Demi!! Aku
punya feeling yang kuat . oh dia
tercipta hanya untukku seorang.”
Demi membuka mulut
lebar-lebar, tapi sayangnya ..
TETTT!!!!!! *bel*
..................................................................
“Itu dia, itu dia!!!”
tunjukku terkejut melihat pria tadi sedang di hadapanku beberapa meter.
Demi, Katty, Taylor,
Bella dan Selena terkejut, dan mengikuti arah jari telunjukku.
“Dia Edward,” kata
Bella santai.
“Edward?” aku terkejut.
“Waw, kau mengenalnya Bella?” tanyaku.
Bella mengangguk , “Dia
satu sekolah denganku dulu.”
“Dia anak kelas apa?”
tanyaku.
“4” jawab Bella
singkat.
“Oh,” semua ber-oh
kecuali aku dan Bella.
.,.,.,.,.,.,
Aku berjalan beriringan
dengan Bella – menuju lavatory –
“Edward orang-nya tidak
mudah ditebak, dia tidak terkenal, tapi banyak yang tau tentang dirinya. Kau
jangan sampai menyukainya,” katanya melarangku.
“Why you speak that?”
heran menyusup otakku.
“Dia pria tak kenal
wanita,” katanya.
“Aku tidak paham dengan
ucapanmu, Bel” kataku jujur.
“Ah kau ini, otaku
belum disaluri listrik sih,” katanya sambil menepuk jidat.
“Apa emang?” tanyaku
sambil pasang telinga.
“Maksud aku itu, dia
kalau udah tau ada yang suka sama dia, itu wanit bakal dibuat sakit hati, tanpa
dia pikir bahwa dia punya salah. Kamu bakal dibuat kecewa!” katanya tegas.
“Oh,” aku menampilkan
ekspresi tidak sedap dipandang.
“Kenapa? Apa kau
terlanjur menyukainya?”tanyanya.
Aku mengangguk
pelan-pelan. Takut Bella akan menegurku dan melarangku lagi.
“Tak apa. Kami akan
mendukungmu,” kata Bella tersenyum.
“Ah, kalian memang
baik. Pantas menjadi sahabatku,” mataku berkaca-kaca, menampakkan haru-ku yang
akan mengalir.
..................................................................
“Anna, Edward berjalan
itu!” tunjuk Katty.
“Katty, kau tau ?”
Suasana hening pagi itu.
“Iya, kami semua sudah
tau,” kata Selena.
“Apa kalian
mendukungku?” tanyaku resah dan khawatir.
“PASTI!” jawab kelima
sahabatku.
Aku tersenyum puas
menatap hidupku kini. Dipenuhi semua sahabat yang dapat memahami dan mengerti
aku.
“Demi, aku pinjam
spidol ya, boleh?” tanyaku sambil tersenyum lebar.
“Tidak. Kau manusia
gila,” katanya melucu di hadapanku – sambil menjulurkan lidahnya – yang
lagi-lagi basah – di hadapanku –
“Masih mending,
daripada kau, wanita jorok,” aku menutup hidungku, dan memutar kedua bolamataku
ke satu arah yang sama.
“Iya-iya boleh Anna
sayang,” kata Demi sambil menyerahkan spidol ungu – warna kesukaanku – ke tangan
mungilku.
“Makasih ya Demi,”
kataku sambil mencubit pipi tembemnya.
“Jangan lupa
kembali-in!”
.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,
Pukul empat sore, aku masih belum pulang . ada sebuah
kerkel kecil di rumah Zee. Tiba-tiba handhphone-ku bergetar, ayah menelponku.
“Halo, what’s the
problem Dad?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Hi, Anna. Kemana saja
kau? Ayah mengkhawatirkanmu,” katanya khawatir dan berbicara pelan dari
sebelum-sebelumnya.
“Anna kerja kelompok,
Dad!” kataku.
“Dimana?” tanya ayah.
“Zee’s home. Kenapa
yah?” tanyaku.
“Cepat pulang, apalagi
kamu naik sepeda. Ya udah jangan lama-lama, cepat pulang dan hati-hati di
jalan, Anna!” ingat ayah.
“Iya, pasti.”
.................................................................
Dua jam berlalu. Kini, waktu menunjukkan pukul 04.00pm
waktu daerah-ku. Hujan lebat mengguyur kota kecil yang aku tinggali. Bagaimana
ini ?
“Zee, aku pulang saja,
aku pasti dicari oleh ayahku. Boleh aku minta plastik besar yang dapat menutupi
tasku dari derasnya hujan ? ada ?” tanyaku.
“Sepertinya ada. Tunggu
sebentar,” katanya dan pergi ke belakang.
“Kau yakin akan pulang?
Di luar, hujan sungguh lebat,” tanya Katty.
“Iya, jangan
khawatirkan aku,” kataku santai.
“Ini, Anna. Cukup ?”
tanya Zee.
Aku memasukkan tasku ke
dalam plastik besar, kurasa cukup untuk melindungi tasku.
“Ya sudah, aku pulang
duluan ya kawan,” pamitku.
Aku mengayuh pedal ku di tengah hujan ini, angin cukup
kencang menerpa jalanan yang kutusuri. Aku takut terbawa angin, kuputuskan
untuk menunggu – angin sedikit berhembus biasa – di halte pinggir jalan. Aku
mendapati sosok Edward terduduk kedinginan di halte yang sepi itu. Aku mencoba
menghampirinya. Dan mulai mengajaknya mengobrol.
“Halo,” pertama-tama
aku sapa dirinya.
Dia menoleh ke arahku,
oh sungguh, kini, jelas sudah aku melihat tampan yang dia miliki. Tuhan .. kau
ciptakan untuknya untuk diriku ?
“Iya, kau yang waktu
itu ....” sebelum dia meneruskan kata-katanya, aku menjawabnya.
“Iya, kita pernah
bertabrakan di belokan koridor sekolah saat itu,” jawanbku.
“Aku baru ingat. Aku
Edward. Kau?” Aku tak pernah bermimpi, malam ini akan menjadi indah, dia
menanyakan tentang diriku. Tuhan .. ~
“Annabel. Panggil saja
Anna,” aku menjawabnya dengan senyum manis nan elok untuk dipandang. Gigiku
yang tertata rapi pun tak lupa untuk ku-show-kan.
“Kau anak kelas apa ?”
tanyanya lagi.
“Sembilan,” jawabku
dengan huruf yang jelas dan fasih.
“Aku kelas ...”
“Empat, kan?” tanyaku
meyakinkan.
“Iya, tau darimana?”
tanyanya heran.
“Bella Swan. Kau
mengenalnya ? katanya, dia adalah teman sekolahmu dulu,” kataku menyebutkan
salah satu tentang Bella – temannya dulu –
“Tentu saja aku
mengenalnya,” katanya. Membuatku hatiku menjadi amburadul tanpa tau dimana
tempat sepatu sebenarnya. Sepatu di otakku kuletakkan di atas tempat tidur.
“Oh iya. Eh, angin sudah
tidak berhembus kencang. Sebaiknya aku pulang, daripada ada sebuah gossip tak
sedap, karena malam ini,” aku tersenyum.
“Iya, bye. Be careful!” katanya mengingatkanku. Aku
mengangguk, mengingat pesan-nya.
Kreeekk ..!
“Hai, ayah! Anna
pulang!” kataku menyapa ayah.
“Annabel Cyrus ini
sudah membuat ayah khawatir rupanya,” kata ayah membuatku sedih.
“Maaf ayah. Tadi angin
cukup kencang, Anna takut terbawa angin. Dan Anna mampir mengiup di halte, di
sana ada temanku ayah, maaf,” kataku menjelaskan.
“Siapa? Laki-laki?”
tanya ayah mulai khawatir.
“Iya,” aku tersenyum
lebar, unjuk gigi rapiku.
“Siapa? Ayah harus
kenal.”
“Edward Buton.”
“Dia ? jangan dekati
dia,” kata ayah.
“Kenapa ?”
“Ayah tidak ingin
melihatmu menangis karenanya. Dia manusia yang kejam.”
“Ayah mengetahui
tentangnya ?” tanyaku terkejut.
Ah ayah ini mengetahu
tentang Edward ? siapa sebenarnya Edward? Hingga ayah tak merestui jika aku
menjalin hubungan dengan Edward suatu saat nanti?
to be continued guys :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar