Minggu, 21 April 2013

A Thousand Years


ini aku persembahkan untuk kalian pembaca setia blogku :)

Halo, namaku Anna, Annabel Cyrus. Cyrus adalah nama dari keluarga besar ayahku. Dan itu merupakan adat istiadat ?! umurku ? aku malu untuk mengatakan berapa lama aku hidup di bumi :D. Yang jelas, aku bukan anak kecil, maupun dewasa. Lebih tepatnya, teenager. Aku belajar di salah satu sekolah sederhana – penuh prestasi dan menjadi kebanggaan – yang juga diperhatikan oleh ayahku. Maksudnya, ayahku adalah salah seorang komite di sekolah-ku.
            2 ekor kucing yang lucu selalu menemaniku tiap pulang sekolah. Belaian dari ibu, kini hilang diterpa angin. Ibuku meninggal sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu aku masih sekolah dasar. Hanya ayahku yang merawatku mati-matian hingga banting tulang. Kucing pemberian ibu - saat aku ulang tahun ke-3th – masih kujaga selalu. Kucing berbulu putih dan terdapat kalung yang dapat berbunyi, seringkali menghiburku dengan gerakannya yang lincah.
            Pagi ini, aku diantar ayah pergi sekolah. Sejujurnya, aku sangat tak enak dengan ayah, juga merasa malu diliat teman-teman. Setiap harinya, aku naik sepeda santai dan melihat pemandangan kota untuk pergi bersekolah.
“Makasih yah !” kataku tersenyum tulus kepada ayah.
“Belajar yang sungguh ya, Anna!” pinta ayah tiap harinya kepadaku. Aku anak tunggal yang dimiliki ayah. Jadi, ayah selalu memberikan yang terbaik hanya untukku dan tetap untukku.
Aku berjalan menyusuri koridor yang disinari terang cahaya mentari, dengan dipenuhi keramaian oleh siswa yang sedangg mengobrol sebelum jam pelajaran dimulai, aku tanpa sengaja menabrak seorang laki-laki dari arah samping. Dia sungguh tampan, menawan hatiku, wajahnya bersih, putih, dan .. baik hati. Dia meminta maaf kepadaku. Oh sungguh aku tergila karena-nya.
“Em, maafkan saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca, seakan-akan merasa bersalah.
“Oh tak apa, ini kesalahanku,” aku tersenyum menatapnya. Dia membalas senyumku, dan segera meninggalkanku.
Baru kali ini aku menemuka sesosok laki-laki tampan tanpa sedikit noda di hidupnya. Oh, malaikatku, aku akan mengejarmu.
Prak ..! ~
Seseorang menapar paha-ku, saat aku terduduk manisa dan mengingat kejadian tadi.
“AAAWWW!!! Sakit Mi!” bentakku.
Demi merasa tak punya dosa atas kesalahannya . ah dasar cewek gila.
“Kasian!” katanya sambil menjulurkan lidahnya yang basah – penuh dengan liur itu –
“Ih, kau cewek terjorok yang kutemui selama hidupku, Mi!” kataku buang muka dan menutup mataku – tak mau melihat Demi –.
“Kau kenapa melamun?” tanya Demi peduli.
“Ah, pasti ada maunya kau menanyakan hal seperti itu, bukan?” tebakku.
“Tidak, Anna sayang!” katanya sambil mencubit pipi kiriku.
“Aww! Kau sahabat terkonyol Demi!” kataku menyesal. “tapi aku sayang” lanjutku sambil tersenyum lebar, dan menunjukkan ekspresi bahwa aku sedan membuat lelucon.
“Iya, aku tau kau emang lucu dan humoris. Lalu, kenapa kau melamun menatap tembok kayu yang kusam dan kosong itu coba? Kau gila sudah, meniruku,” katanya menyombongkan diri, karena aku terkena virus gila-nya.
“Tidak. Aku tadi bertemu pria tampan, bagai malaikat yang diciptakan hanya untukku~,” aku mulai bercerita.
“Kau menghayal,” kata Demi seraya menaik-turunkan tangannya, dan mengalangi pandanganku tentang pria itu.
“Tidak, Demi!! Aku punya feeling yang kuat . oh dia tercipta hanya untukku seorang.”
Demi membuka mulut lebar-lebar, tapi sayangnya ..
TETTT!!!!!! *bel*

..................................................................

“Itu dia, itu dia!!!” tunjukku terkejut melihat pria tadi sedang di hadapanku beberapa meter.
Demi, Katty, Taylor, Bella dan Selena terkejut, dan mengikuti arah jari telunjukku.
“Dia Edward,” kata Bella santai.
“Edward?” aku terkejut. “Waw, kau mengenalnya Bella?” tanyaku.
Bella mengangguk , “Dia satu sekolah denganku dulu.”
“Dia anak kelas apa?” tanyaku.
“4” jawab Bella singkat.
“Oh,” semua ber-oh kecuali aku dan Bella.
.,.,.,.,.,.,
Aku berjalan beriringan dengan Bella – menuju lavatory –
“Edward orang-nya tidak mudah ditebak, dia tidak terkenal, tapi banyak yang tau tentang dirinya. Kau jangan sampai menyukainya,” katanya melarangku.
“Why you speak that?” heran menyusup otakku.
“Dia pria tak kenal wanita,” katanya.
“Aku tidak paham dengan ucapanmu, Bel” kataku jujur.
“Ah kau ini, otaku belum disaluri listrik sih,” katanya sambil menepuk jidat.
“Apa emang?” tanyaku sambil pasang telinga.
“Maksud aku itu, dia kalau udah tau ada yang suka sama dia, itu wanit bakal dibuat sakit hati, tanpa dia pikir bahwa dia punya salah. Kamu bakal dibuat kecewa!” katanya tegas.
“Oh,” aku menampilkan ekspresi tidak sedap dipandang.
“Kenapa? Apa kau terlanjur menyukainya?”tanyanya.
Aku mengangguk pelan-pelan. Takut Bella akan menegurku dan melarangku lagi.
“Tak apa. Kami akan mendukungmu,” kata Bella tersenyum.
“Ah, kalian memang baik. Pantas menjadi sahabatku,” mataku berkaca-kaca, menampakkan haru-ku yang akan mengalir.

..................................................................

“Anna, Edward berjalan itu!” tunjuk Katty.
“Katty, kau tau ?” Suasana hening pagi itu.
“Iya, kami semua sudah tau,” kata Selena.
“Apa kalian mendukungku?” tanyaku resah dan khawatir.
“PASTI!” jawab kelima sahabatku.
Aku tersenyum puas menatap hidupku kini. Dipenuhi semua sahabat yang dapat memahami dan mengerti aku.
“Demi, aku pinjam spidol ya, boleh?” tanyaku sambil tersenyum lebar.
“Tidak. Kau manusia gila,” katanya melucu di hadapanku – sambil menjulurkan lidahnya – yang lagi-lagi basah – di hadapanku –
“Masih mending, daripada kau, wanita jorok,” aku menutup hidungku, dan memutar kedua bolamataku ke satu arah yang sama.
“Iya-iya boleh Anna sayang,” kata Demi sambil menyerahkan spidol ungu – warna kesukaanku – ke tangan mungilku.
“Makasih ya Demi,” kataku sambil mencubit pipi tembemnya.
“Jangan lupa kembali-in!”
.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,.,
            Pukul empat sore, aku masih belum pulang . ada sebuah kerkel kecil di rumah Zee. Tiba-tiba handhphone-ku bergetar, ayah menelponku.
“Halo, what’s the problem Dad?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Hi, Anna. Kemana saja kau? Ayah mengkhawatirkanmu,” katanya khawatir dan berbicara pelan dari sebelum-sebelumnya.
“Anna kerja kelompok, Dad!” kataku.
“Dimana?” tanya ayah.
“Zee’s home. Kenapa yah?” tanyaku.
“Cepat pulang, apalagi kamu naik sepeda. Ya udah jangan lama-lama, cepat pulang dan hati-hati di jalan, Anna!” ingat ayah.
“Iya, pasti.”

.................................................................

            Dua jam berlalu. Kini, waktu menunjukkan pukul 04.00pm waktu daerah-ku. Hujan lebat mengguyur kota kecil yang aku tinggali. Bagaimana ini ?
“Zee, aku pulang saja, aku pasti dicari oleh ayahku. Boleh aku minta plastik besar yang dapat menutupi tasku dari derasnya hujan ? ada ?” tanyaku.
“Sepertinya ada. Tunggu sebentar,” katanya dan pergi ke belakang.
“Kau yakin akan pulang? Di luar, hujan sungguh lebat,” tanya Katty.
“Iya, jangan khawatirkan aku,” kataku santai.
“Ini, Anna. Cukup ?” tanya Zee.
Aku memasukkan tasku ke dalam plastik besar, kurasa cukup untuk melindungi tasku.
“Ya sudah, aku pulang duluan ya kawan,” pamitku.
            Aku mengayuh pedal ku di tengah hujan ini, angin cukup kencang menerpa jalanan yang kutusuri. Aku takut terbawa angin, kuputuskan untuk menunggu – angin sedikit berhembus biasa – di halte pinggir jalan. Aku mendapati sosok Edward terduduk kedinginan di halte yang sepi itu. Aku mencoba menghampirinya. Dan mulai mengajaknya mengobrol.
“Halo,” pertama-tama aku sapa dirinya.
Dia menoleh ke arahku, oh sungguh, kini, jelas sudah aku melihat tampan yang dia miliki. Tuhan .. kau ciptakan untuknya untuk diriku ?
“Iya, kau yang waktu itu ....” sebelum dia meneruskan kata-katanya, aku menjawabnya.
“Iya, kita pernah bertabrakan di belokan koridor sekolah saat itu,” jawanbku.
“Aku baru ingat. Aku Edward. Kau?” Aku tak pernah bermimpi, malam ini akan menjadi indah, dia menanyakan tentang diriku. Tuhan .. ~
“Annabel. Panggil saja Anna,” aku menjawabnya dengan senyum manis nan elok untuk dipandang. Gigiku yang tertata rapi pun tak lupa untuk ku-show-kan.
“Kau anak kelas apa ?” tanyanya lagi.
“Sembilan,” jawabku dengan huruf yang jelas dan fasih.
“Aku kelas ...”
“Empat, kan?” tanyaku meyakinkan.
“Iya, tau darimana?” tanyanya heran.
“Bella Swan. Kau mengenalnya ? katanya, dia adalah teman sekolahmu dulu,” kataku menyebutkan salah satu tentang Bella – temannya dulu –
“Tentu saja aku mengenalnya,” katanya. Membuatku hatiku menjadi amburadul tanpa tau dimana tempat sepatu sebenarnya. Sepatu di otakku kuletakkan di atas tempat tidur.
“Oh iya. Eh, angin sudah tidak berhembus kencang. Sebaiknya aku pulang, daripada ada sebuah gossip tak sedap, karena malam ini,” aku tersenyum.
“Iya,  bye. Be careful!” katanya mengingatkanku. Aku mengangguk, mengingat pesan-nya.
Kreeekk ..!
“Hai, ayah! Anna pulang!” kataku menyapa ayah.
“Annabel Cyrus ini sudah membuat ayah khawatir rupanya,” kata ayah membuatku sedih.
“Maaf ayah. Tadi angin cukup kencang, Anna takut terbawa angin. Dan Anna mampir mengiup di halte, di sana ada temanku ayah, maaf,” kataku menjelaskan.
“Siapa? Laki-laki?” tanya ayah mulai khawatir.
“Iya,” aku tersenyum lebar, unjuk gigi rapiku.
“Siapa? Ayah harus kenal.”
“Edward Buton.”
“Dia ? jangan dekati dia,” kata ayah.
“Kenapa ?”
“Ayah tidak ingin melihatmu menangis karenanya. Dia manusia yang kejam.”
“Ayah mengetahui tentangnya ?” tanyaku terkejut.
Ah ayah ini mengetahu tentang Edward ? siapa sebenarnya Edward? Hingga ayah tak merestui jika aku menjalin hubungan dengan Edward suatu saat nanti?


to be continued guys :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar