“Kau sudah sadar, Nya?” tanya Siti sambil memberiku minyak kayu putih.
“Kenapa aku?” Aku tersadar dari mimpi buruk. “Apa aku bermimpi buruk?”
“Tidak, kau barusaja sadar dari pingsanmu,” terang Ghani.
“Anya tidak lemah dan Anya tidak boleh pingsan,” kataku sambil senyum dan berusaha duduk. Aku melihat sekelilingku, dan tak sadar, Rayon membalikkan badan dan melihatku dengan tajam. Aku kaget.
“Biar kubantu,” kata Siti membantuku.
“Iya terimakasih,” kataku.
Brrrlll .. “Bunyi apa itu?” tanya Ghani.
“Sepertinya, perutku mulai berdendang,” kata Kumar mengaku dan meringis.
“Kalian boleh makan di rumahku,” tawar Rayon mempersilahkan. “Biar kubantu,” kata Rayon kepadaku.
“Iya, tolong bantu Anya, Yon,” kata Siti membiarkan Rayon melakukan hal itu.
Tentu saja, aku berjalan dengan dibantu Rayon. Mata bulat Rayon indah. Membuatku jatuh cinta kepadanya. Ah, ini bak mimpi bertemu seorang pangeran. Rayon menatapku, mungkin dia tau aku sedang memerhatikannya.
“Ada apa?” tanya Rayon judes.
“Tidak.” Aku berbohong.
“Kau tega-teganya plagiat,” tuduh Royan.
“Plagiat apa-an? Enak saja,” kataku.
“Kata-kata ‘Anya tidak lemah dan Anya tidak boleh pingsan’. Kau tidak boleh menggunakannya,” larang Rayon.
“Loh mengapa? Itu hak semua orang, dan kata-kata itu kata-kata ku!” kataku mulai marah.
“Itu sebuah kalimat yang kudengar dari seseorang yang kucintai. Dia namanya Anya, teman kecilku,” jelas Rayon.
“Oh kau rupanya memiliki teman saat kecil, pst, kukira tidak pernah punya teman. Cepat lepaskan aku,” kataku dan segera berlari menyusul teman-temanku, walau kadang aku terjatuh. “Hei! Tunggu!” cegahku.
“Loh? Nya? Rayon?” tanya Siti kebingungan.
“Kita pulang sekarang, udah sore,” ajakku.
“Masih betah di sini, Nya,” kata Ghani.
“Ayolah! Turuti aku! Kalau kalian gak mau, aku bisa pulang sendiri,” kataku. Aku kembali pada tempat Rayon masih berdiri, kuambil tasku dan berjalan menuju halte – yang berada di sebelah pantai – tanpa pamit kepada mereka.
“Anya! Tunggu! Aku pulang bersamamu!” teriak Siti. Aku tak menghiraukan teriakannya.
****
“Kau merasa sepi?” tanya Kumar saat jam kosong pagi itu.
“Tidak. Kau jangan sotoy deh jadi orang!” bentakku.
“Kau lagi dapet ya, Nya?” tuduh Kumar.
Aku melirik tajam ke arahnya.
“Eh eh takut aku! Nya, kamu kangen Rayon ya?” tanya Kumar kepo.
Aku terdiam, aku menyadari, bahwa aku mengenal sosok Rayon – yang telah mengisi hari-hariku minggu lalu – dalam hidupku.
“Ya kan ya kan!” kata Kumar sambil menunjuk ke muka-ku.
Aku membuang jari-jari Kumar dari hadapanku.
“Anya!” sapa Siti. “Nih aku bawa minuman!” kata Siti memberiku sebotol minuman.
“Makasih, Sit!” kataku membuang muka lagi.
“Anya kenapa, Mar?” tanya Siti berbisik.
“Aku juga tidak tau, aku nanyak malah dibentak,” jawab Kumar.
“Dia kangen Rayon?” tanya Siti.
“STOP! Jangan sebut nama ‘Rayon’ di hadapanku,” Aku berlari ke luar kelas. Membelok ke arah kanan dan brakk .. aku menabrak seseorang.
“Nya! Kemana?” tanya Ghani yang ternyata bertabrakan denganku.
Sepi! Sejak mereka mengenal Rayon, mereka serasa lupa denganku. Kalian tidak tau! Rayon kejam! Kejam terhadapku! Dia menyamakan diriku dengan teman kecilnya yang tak berguna itu. Aku niat bolos sekolah.
Aku melempar tasku ke sofa saat setelah sampai rumah.
“Loh? Nya?” kata Rere kaget.
“Apa? Kaget? Waw?” sindirku dengan kebiasaan Rere bilang ‘waw’ ‘waw’ dan ‘waw’.
“Kau? Membolos? Aku akan menelepon mama!” kata Rere mengancamku.
“Tidak takut. Kau sendiri juga membolos,” sindirku.
“Aku libur Anya!” bentak Rere dan sesegera mungkin aku menutup lubang telingaku.
****
“Hei hei! Siapa yang membolos?!” tanya tante Mira bentak kepadaku.
“Aku tante,” jawabku santai.
“Kenapa membolos Anya!” Tante Mira mulai mengeluarkan jurusnya, yaitu muncul asap dari atas kepalanya.
“Bosen sekolah,” jawabku enak.
“Permisi! Hei Anya! Itu tempat dudukku! Sini pindah kamu di kursi ini! CEPAT!!!” perintah Rere. Apaboleh buat, aku menuruti anak manja, cengeng dan tentu saja kejam itu.
“Iya iya,” kataku dan berjalan santai.
“Kamu mau hukuman apa Anya? Membolos itu perbuatan tercela! Disetrika? Dipukul? Ditampar? Apa? Kau minta apa?” tanya tante Mira memberikan balasan.
Huh dasar tante ndeso*), hukuman ya kayak gitu -_-
“Gak ada yang lebih cetar membahana, te?” tawarku kepada hukuman yang lebih berat.
“Kau mau? Diusir?” tanya tante Mira.
Aku kaget, mataku membelalak, untung tidak copot. “Tidak, dipukul saja,” jawabku ikhlas.
Plak plak plak ..
Tante Mira memukuli aku dengan sapu kerik. Rasanya sakit, perih, dan membosankan.
“Makasih tante!” kataku setelah tante Mira berjalan menjauh.
Tante Mira melirikku, “Anak kok gak bosan-bosannya kena hukuman.”
Aku mencoba berdiri dari kursi untuk menuju kamarku. Tapi rasanya ada yang memberi lem sehingga aku tak dapat bangun. Rupanya ada permen karet. Pasti Rere.
“RERE!!!” panggilku.
“Apa lagi sih anak pungut?” tanya Rere.
“Cepat lepaskan permen karet ini!” perintahku.
“Tidak mau, lepas saja sendiri!” kata Rere bak bergaya seorang model.
Aku berusaha bangun dari kursi ini. Sekuat tenaga. Jujur, aku membutuhkan pisau untuk memotong permen karet ini. Tapi Rere tidak mau membantuku mengambilkan pisau. Jadi, aku harus berusaha sendiri. Ciaaaaa!!!
****
“Nya,” sapa Siti pagi itu.
“Apa? Kau mau menyebut nama anak itu lagi?” sindirku.
“Tidak. Nya, nanti ikut aku ya! Aku punya sesuatu untukmu,” kata Siti tersenyum.
“Apa? Rahasia?” Aku tertunduk. “Sekarang kalian seperti menjauh dariku. Sekarang, menyembunyikan sesuatu dariku.”
*) tidak tau apa-apa
“Tidak, nanti kamu bakal tau sendiri,” kata Siti menenangkanku.
Siti menutup mataku dengan sehelai kain dan diikat di bagian belakang kepalaku.
“Maju terus yak!” kata Siti menuntunku berjalan.
“Sudah?” tanyaku.
“Iyak, kau boleh melepas kainnya, tapi perlahan.”
1 2 3 ..
“HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY , HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY TO YOU!”
Serentak semua orang yang menyayangiku datang untuk mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ padaku. Iyap, aku hari ini berulang tahun ke 16. Tapi, aku sendiri lupa kalau hari ini usiaku bertambah.
“Selamat ulang tahun ya sayang. Semoga panjang umur, sehat selalu, sekolahnya lancar. Amin!” kata tante Mira memberi permohonan dan ucapan serta membawa kue ulang tahun untukku. “Maaf sayang, kemarin tante disuruh teman-temanmu berbuat seperti itu.”
“Iya tante gak papa. Itu kan juga salah Anya!” kataku meminta maaf.
Tante pergi menjauh dan berdiri di balik teman-temanku.
“An!” panggil seseorang.
Aku seperti teringat masa lalu seseorang memanggilku dengan sebutan yang berbeda. Aku mencari sumber suara itu. Aku berbalik ke belakang. Rayon!
“Aku merindukanmu!!!” teriakku kepada Rayon dan berlari untuk memeluknya.
“Aku juga rindu padamu. Kau tau? Aku Joni. Teman masa kecilmu. Sejak aku mengetahui bahwa kamu bernama Anya. Aku sudah punya feeling kalau kamu orang yang kucintai sejak kecil,” kata Rayon. Rayon melanjutkan, “Dan feeling itu benar saat kau bilang ‘Anya tidak lemah dan Anya tidak boleh pingsan’ dan itu membuatku semakin percaya kalau kau Anya. Aku juga mencari informasi tentangmu kepada teman-temanmu,” Rayon tersernyum.
“Dan mengapa kau berganti nama, kalau sebenarnya dirimu Joni?” tanyaku bingung.
“Nama asliku memang Rayon. Joni hanya nama kecilku, dan sekarang aku membenci nama itu karena terlalu kampungan.”
“Oh,” Aku hanya ber-oh.
“Aku mencintaimu. Kau mau memiliki hubungan lebih denganku? Lebih dari sahabat,” tanya Rayon tersenyum. Aku mengangguk bahagia senang gembira. Tak tau apa yang kurasakan. Semua menjadi satu untuk Rayon. Cinta.
“Selamat kak Anya!” Seseorang berteriak memberi ucapan. Aku kebingungan mencari suara itu.
“Rere?!” tanyaku bingung. “Rere! Sini!” pintaku.
“Kak Anya maaf selama ini Rere kasar kepada kakak. Seharusnya Rere menghormati kakak, bukan mencemooh atau ngerjain kakak. Maafin Rere ya kak!” kata Rere lesu.
“Iya gak papa, maaf juga kakak gak bisa jadi kakak yang baik,” kataku memeluk Rere.
****
Rasanya tadi malam itu malam terindah sepanjang hidupku. Aku berangan-angan menjadi putri. Dan itu terwujud malam itu. Aku berangan-angan memiliki pangeran. Dan terwujud, dialah Joni, eh Rayon. Terimakasih Tuhan ..
Aku menghadap langit cerah pagi itu.
“Hei An! Coba kemari!” kata Rayon.
Aku berlari ke arahnya, “Ada apa?” tanyaku.
“Bantu aku menggali ini,” kata Rayon. Aku melihat teman-teman dan keluargaku sedang berbahagia dengan caranya masing-masing.
Kruk kruk kruk ..
“Mainan ini? Masih kau simpan rupanya,” Aku tersenyum lebar. Bangga kepada Rayon.
“Mau mencoba nya sekali lagi?” tawar Rayon.
“Berdua ya?” kataku.
“Hei Ghani! Coba potret kita saat meluncur dari bukit itu ya!” pinta Rayon.
“MELUNCURRR!!!!” kata Rayon dan aku bersama
Cekrik ...
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar